Kiki, peternak ayam petelur di Gunung Sindur, Kabupaten Bogor. (Foto: PravadaNews)

Beranda / Ekonomi / Peternak Ungkap Dampak MBG terhadap Harga Telur

Peternak Ungkap Dampak MBG terhadap Harga Telur

PravadaNews – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diharapkan mampu meningkatkan penyerapan telur dari peternak belum dirasakan optimal oleh Kiki, peternak ayam petelur di Gunung Sindur, Kabupaten Bogor. 

Kiki menilai harga telur hanya mengalami kenaikan pada awal pelaksanaan program, sedangkan kondisi pasar belakangan justru semakin tertekan.

Kiki mengatakan harapan terhadap peningkatan permintaan telur sempat muncul ketika program MBG mulai berjalan. Namun, menurut pengalamannya, kondisi tersebut tidak berlangsung lama dan harga telur justru mengalami penurunan.

“Awal-awal aja yang naik. Kalau pas ke sini-ke sini malah makin hancur sih, malah makin parah,” kata Kiki saat diwawancarai, Senin (26/10/2026).

Kiki mengaku tidak mengetahui secara pasti bagaimana mekanisme penyerapan telur untuk memenuhi kebutuhan program MBG. Informasi mengenai besarnya kebutuhan bahan pangan dalam program tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam kondisi penjualan yang dihadapinya sebagai peternak.

“Katanya kan dari MBG itu penyerapannya banyak dari petani, padahal kayanya biasa-biasa aja sih, malah hancur banget pasar dari mereka,” ujar Kiki.

Menurut Kiki, kondisi pasar yang dirasakannya justru berbanding terbalik dengan harapan bahwa program pemerintah dapat membantu meningkatkan permintaan telur. 

Kiki menilai penyerapan hasil produksi perlu benar-benar dirasakan peternak agar manfaat program tidak berhenti pada besarnya kebutuhan yang diumumkan.

Tekanan pasar tersebut terjadi ketika biaya produksi peternak juga mengalami kenaikan. Harga pakan ayam yang sebelumnya Rp375.000 per karung ukuran 50 kilogram kini mencapai Rp390.000 per karung.

Kiki mengatakan kenaikan harga pakan itu mulai dirasakan sekitar dua minggu terakhir. Sementara itu, harga telur di posko penjualan bertahan di kisaran Rp22.500 per kilogram selama hampir dua bulan.

Sebelumnya, harga telur sempat mencapai Rp23.800 per kilogram sebelum turun menjadi sekitar Rp22.000 per kilogram. Perubahan harga tersebut membuat peternak semakin sulit menjaga keuntungan di tengah biaya operasional yang meningkat.

“Jadi biaya untuk ayam sendiri lumayan tinggi. Dari pakan juga mulai naik ke Rp390.000 per 50 kilogram, sebelumnya Rp375.000 per 50 kilogram. Harga telurnya juga turunnya jauh banget, ya bingung juga sih,” kata Kiki.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *