PravadaNews – Di balik sinarnya yang menopang kehidupan di Bumi, Matahari menyimpan aktivitas yang dapat memengaruhi teknologi yang digunakan manusia sehari-hari.
Pelepasan energi dan partikel berenergi tinggi dari Matahari dapat memicu gangguan pada komunikasi radio, navigasi GPS, hingga operasional satelit.
Mengutip dari laman Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada Senin (26/10/2026), fenomena yang berkaitan dengan perubahan medan magnet matahari ini perlu dipantau untuk memahami potensi dampaknya terhadap berbagai sistem teknologi modern.
Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Antariksa BRIN, Santi Sulistiani mengatakan, karakteristik dan waktu kedatangan setiap fenomena menjadi bagian penting dalam mengantisipasi risiko aktivitas Matahari terhadap teknologi.
“Perbedaan waktu tersebut penting untuk menentukan langkah mitigasi,” ujar Santi.
Salah satu fenomena aktivitas Matahari adalah solar flare, yakni lonjakan radiasi elektromagnetik secara cepat dan kuat.
Radiasi ini mencakup sinar-X, ultraviolet ekstrem, dan gelombang radio yang mencapai Bumi sekitar delapan menit setelah terjadi.
Santi menjelaskan, solar flare dibagi menjadi lima kelas berdasarkan intensitas radiasi sinar-X, yaitu A, B, C, M, dan X.
Kelas M dapat mengganggu komunikasi radio frekuensi tinggi, sedangkan kelas X berpotensi menyebabkan gangguan sinyal lebih luas.
Selain solar flare, Matahari dapat melepaskan miliaran ton gas terionisasi beserta medan magnet melalui lontaran massa korona atau coronal mass ejection (CME).
Berbeda dengan radiasi flare, CME bergerak lebih lambat dan membutuhkan waktu satu hingga tiga hari untuk mencapai Bumi.
Karena itu, pengamatan terhadap setiap fenomena diperlukan untuk memahami potensi dampaknya.
“Pengamatan tersebut membantu memperkirakan risiko yang dapat terjadi di Bumi,” ujar Santi.
Fenomena lain yang perlu diperhatikan adalah badai proton atau solar proton event (SPE).
Partikel berenergi tinggi ini dapat mencapai lingkungan Bumi dalam 15 menit hingga beberapa jam, bergantung pada proses percepatannya.
Santi mengungkapkan, badai proton berisiko merusak perangkat elektronik satelit dan meningkatkan paparan radiasi bagi penerbangan jarak jauh, terutama pada lintang tinggi.
“Partikel berenergi tinggi yang dipicu flare dapat mencapai Bumi sekitar 15 menit,” kata Santi.
Pemantauan aktivitas Matahari penting untuk mengantisipasi gangguan terhadap teknologi.
Pengamatan radiasi, partikel berenergi tinggi, dan CME membantu memperkirakan waktu kedatangan fenomena serta menentukan langkah mitigasi yang sesuai.














