PravadaNews – Tekanan jual yang membayangi pasar saham Indonesia membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan dengan pelemahan cukup tajam.
Namun, di tengah derasnya aksi jual investor dan keluarnya dana asing, peluang pemulihan indeks masih terbuka pada perdagangan berikutnya.
Tim Analis BNI Sekuritas menilai IHSG berpeluang mengalami rebound pada perdagangan hari ini, Selasa (27/10/2026), setelah ditutup melemah 1,2 persen ke level 5.373 pada Senin.
Tekanan pasar turut tercermin dari aksi jual bersih saham senilai Rp2,03 triliun, dengan BMRI, TLKM, BBCA, BBRI, dan ANTM menjadi saham yang paling banyak dilepas investor asing.
Jika HSG tembus di bawah 5.300, tambahnya, IHSG berpotensi melanjutkan koreksi mengarah kembali ke 5.000an.
“IHSG hari ini ada potensi untuk pteknikal rebound. Tapi hati-hati jika IHSG tembus di bawah 5.300,” kata Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman.
Fanny memperkirakan, IHSG akan bergerak di rentang 5.300-5350 untuk level support. Sedangkan level resistansi di rentang 5.400-5.450.
“Pasar sedang menantikan keputusan suku bunga The Fed pada Rabu besok. Investor juga menantikan data pertumbuhan ekonomi dan inflasi AS pada Kamis lusa,” ujar Fanny.
Sejumlah bank sentral dunia juga akan mengumumkan tingkat suku nya pekan ini.
Sementara itu Tim Analis Phintraco Sekuritas menyoroti pelemahan rupiah yang mempengaruhi gerakanj IHSG.
“Pelemahan Rupiah menjadi salah satu risiko utama bagi pasar keuangan domestik, karena dapat meningkatkan tekanan inflasi impor,” sebut Tim Analis Phintraco.
Rupiah yang terus melemah, sambung Tim Phintraco, akan memperbesar beban utang valas perusahaan.
Selain itu, membatasi ruang kebijakan moneter Bank Indonesia.














