PravadaNews – Belakangan ini banyak orang memanfaatkan kemudahan pinjaman untuk memenuhi keinginan yang sebenarnya belum dan bahkan tidak dibutuhkan.
Rumah di klaster mewah, kendaraan keluaran terbaru, perabotan rumah tangga bernilai tinggi hingga alat komunikasi mahal wajib mereka miliki meskipun semua barang sebelumnya masih layak pakai.
Demi mengejar gengsi dan gaya hidup, nafsu mengalahkan akal sehat mereka. Terlebih mereka sadar bahwa penghasilan mereka tidak mencukupi untuk menutupinya.
Mengapa fenomena itu merebak?, jawabannya tentu saja lantaran kemudahan pinjaman online yang mudah diperoleh.
Mereka yang terjerumus pinjaman online adalah ketika persoalan hidup datang menghampiri. Gaji yang tidak lagi cukup hingga kebutuhan sehari-hari yang terus meningkat.
Bagi mereka yang tidak memiliki kesabaran, penyelesaian paling buruk adalah mempertaruhkan nya di perjudian. Beharap mendapatkan kemenangan ternyata kekalahan yang diperoleh.
Kemudian tergoda untuk pinjam, judi lagi, pinjam lagi dan akhirnya mengorbankan yang tidak seharusnya. Gangguan mental dan kejiwaan yang justru diperoleh.
Fenomena inilah yang coba dipotret oleh Jujur Prananto sebagai penulis skenario filim Menang Untuk Kalah yang akan tayang pada 19 November 2026.
“Ini realita yang sedang terjadi di masyarakat kita. Nafsu mengalahkan akal sehat. Keluarga menjadi korban.” tegas Jujur Prananto yang sukses menulis “Petualangan Sherina” dan “Ada Apa Dengan Cinta?” serta “Suzzanna: Santet (Dosa di atas dosa) di Jakarta, Sabtu (31/10/2026).
Jujur Prananto mengakui penulisan ini terinspirasi dari kejadiaan yang dialami oleh teman dekat bahkan keluarga yang berdampak kepada mental dan kejiwaan mereka yang terjerembab dalam kehidupan pinjaman dan judi online.
“Keuangan menipis. Besar pasak dari pada tiang. Apesnya, musibah menghampiri. Masalah demi masalah mengikuti, kepanikan pun melanda karena ditenggat waktu. Judol dipilih sebagai jalan pintas. Berharap solusi, malah masalah yang bertambah runyam. Hutang semakin berlipat. Efeknya adalah tekanan psikologis dan mental yang hebat,” Tegas Jujur Prananto.
Jujur Prananto berharap film Menang Untuk Kalah menjadi pelajaran bagi masyarakat betapa berbahayanya pinjaman dan judi online bagi kehidupan saat ini.
“Saya berharap penonton nantinya menjadikan filim ini pembelajaran,” ujar Jujur Prananto.
Sementara itu Produser sekaligus Sutradara filim Memang Untuk Kalah Hasto Broto mengatakan kebahagiaannya dapat bekerjasama dengan mereka yang terlibat dalam pembuatan filim ini.
“Jujur saya senang dapat bekerjasama dengan semuanya. Jujur Prananto merupakan penulis sarat pengalaman. Dengan Asep Kalila sudah sering berkolaborasi. Terlebih dengan para pemain yang total memberikan kemampuannya di filim ini,” ucap Hasto Broto.
Hasto Broto menambahkan, bukan hal mudah untuk memasuki kehidupan yang tidak pernah kita alami. Penjiwaan dan fokus para pemain sangat luar biasa, mereka mampu menguasai dengan baik setiap perubahan emosi di setiap adegannya.
“Akting para pemain sangat natural, agak susah mendalami peran yang menjadi sisi negatif dalam kehidupan,” ujar Hasto Broto.
Hasto Broto menambahkan bahwa kerjasama Surya Saputra, Lulu Tobing, Ajil Ditto, Putri Ziani, Yessy Gusman dan Allesandrio Reinhard Karamoy sangat membantu terciptanya filim Menang Untuk Kalah.
“Terlebih ini merupakan kumpulan pemain beda zaman. Susah-susah gampang menyatukan mereka dalam sebuah cerita. Disinilah tantangannya,” kata Hasto Broto diiringi rasa terima kasih untuk semuanya.














