PravadaNews – Survei terbaru Lembaga Survei KedaiKOPI mencatat sebagian besar responden muda merasa penghasilannya belum cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Persoalan keuangan itu juga terlihat dari banyaknya responden yang mengaku kehabisan uang menjelang akhir bulan hingga menggunakan tabungan untuk memenuhi kebutuhan rutin.
Kepala Riset Lembaga Survei KedaiKOPI, Ashma Nur Afifah, mengatakan penilaian kecukupan pendapatan dilakukan menggunakan skala satu hingga sepuluh untuk mengetahui kondisi keuangan responden.
“Dan kami menemukan hanya 39,8 persen yang merasa pendapatannya cukup. Jadi, 60 persen pemuda itu merasa pendapatannya enggak cukup,” kata Ashma dalam diskusi hasil survei di Jakarta, Minggu (1/11/2026).
Berdasarkan kelompok responden, hanya kelompok sosial ekonomi A dan pekerja formal yang lebih banyak merasa pendapatannya mencukupi kebutuhan, sedangkan kelompok lainnya cenderung menyatakan sebaliknya.
Selain mengukur kecukupan pendapatan, Lembaga Survei KedaiKOPI menelusuri kebiasaan keuangan responden untuk mengetahui tingkat kerentanan finansial mereka.
Penilaian tersebut mencakup empat kondisi, yakni sering kehabisan uang, menggunakan tabungan untuk kebutuhan sehari-hari, memiliki pekerjaan sampingan, dan kebiasaan berbelanja secara impulsif.
“Kami temukan, kebiasaan paling banyak adalah memang sering kehabisan uang menjelang akhir bulan. Dan juga belakangan ini, untuk bisa memenuhi kebutuhan, mereka terpaksa harus memakai uang tabungan,” ujar Ashma.
Secara rinci, sebanyak 84,8% responden mengaku sering kehabisan uang menjelang akhir bulan, sementara 79,6% belakangan menggunakan tabungan untuk membiayai kebutuhan sehari-hari.
Dari empat indikator ini, Lembaga Survei KedaiKOPI mengategorikan 59% responden sebagai kelompok rentan secara finansial karena mengalami sedikitnya tiga kondisi yang diukur.
Ashma juga menemukan banyak responden milenial memiliki pekerjaan tambahan untuk memenuhi kebutuhan, yang kemungkinan berkaitan dengan tanggungan keluarga dan pengeluaran lebih besar.
Sebagai gambaran kondisi ekonomi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan September 2026 sebesar 3,28%. Sementara itu, diketahui pemerintah menyiapkan Bantuan Subsidi Upah (BSU) sebesar Rp300 ribu per bulan selama tiga bulan bagi sekitar 13,3 juta pekerja untuk menjaga daya beli.
Di sisi lain, Pendiri Lembaga Survei KedaiKOPI Hendri Satrio menilai kondisi ekonomi semakin memberatkan pemuda yang juga menghadapi kesulitan mendapatkan pekerjaan.
Hendri atau yang akrab disapa Hensa menyinggung hambatan berupa kebutuhan koneksi untuk memperoleh pekerjaan, sejalan dengan temuan survei terdapat 56% responden menganggap orang dalam sebagai salah satu kendala mencari kerja.
“Sudah enggak ada orang dalam, ekonominya seperti ini, jadi makin berat,” tutur Hensa dalam kesempatan yang sama.
Selain persoalan pekerjaan, Hensa menyoroti anggapan pemuda belum mampu menyelesaikan masalah sendiri sehingga masih memerlukan bantuan keluarga untuk mendapatkan pekerjaan. Karenanya, Hensa menegaskan hasil survei harus disampaikan kepada publik untuk memperlihatkan pandangan pemuda mengenai kehidupan dan masa depan mereka di Indonesia.














