PravadaNews – Ada satu hal yang sering kali lebih dulu terasa sebelum angka inflasi diumumkan: harga belanjaan yang semakin mahal. Cabai, beras, daging ayam, hingga kebutuhan dapur lainnya menjadi bagian dari pengeluaran yang sulit dihindari setiap rumah tangga.
Pada Oktober 2026, tekanan harga pangan kembali menguat. Inflasi Volatile Food (VF) tercatat mencapai 5,81% secara tahunan (year-on-year). Angka ini sudah melewati batas atas target pemerintah sebesar 5%, dengan selisih 0,81 poin persentase.
Jika ditarik beberapa bulan ke belakang, pergerakannya cukup menarik untuk dicermati. Pada Desember 2025, inflasi VF berada di angka 6,21%. Angka tersebut kemudian turun menjadi 4,06% pada Agustus 2026.
Namun, penurunan itu ternyata belum menjadi tanda bahwa tekanan harga pangan benar-benar mereda. Pada September, inflasi kembali naik menjadi 5,03%, lalu berlanjut hingga 5,81% pada Oktober.
Dalam dua bulan, inflasi VF kembali bergerak naik dan meninggalkan rentang target yang telah ditetapkan.
Lalu, apa yang membuat harga pangan kembali memberikan tekanan?
Data BPS menunjukkan sejumlah komoditas yang dominan mendorong inflasi VF secara tahunan, yakni cabai rawit, beras, daging ayam ras, daging sapi, tomat, dan cabai merah.
Pemerintah sendiri telah menetapkan sasaran inflasi VF pada kisaran 3–5% sepanjang 2026 melalui kesepakatan High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Pusat (HLM TPIP) pada 29 Januari 2026.
Kini, pekerjaan rumahnya adalah mengendalikan harga komoditas tersebut agar kenaikan tidak terus berlanjut.
Sebab, pada akhirnya, keberhasilan pengendalian inflasi bukan hanya terlihat dari angka statistik, tetapi juga dari seberapa stabil harga yang ditemui masyarakat ketika berbelanja.
Mampukah pemerintah menurunkan inflasi VF kembali ke dalam target sebelum akhir tahun?
Sumber: BPS, Bank Indonesia













