PravadaNews – Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto mengungkapkan suasana pertemuan antara Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dengan Presiden RI Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, beberapa hari lalu berlangsung sangat cair meski merupakan agenda formal kenegaraan.
Menurut Hasto, pertemuan tersebut tidak hanya mencerminkan komunikasi politik tingkat tinggi, tetapi juga memperlihatkan kedekatan personal di antara para tokoh bangsa.
Hasto menilai suasana yang hangat dan terbuka dalam pertemuan itu menjadi sinyal positif bagi upaya memperkuat stabilitas politik nasional.
Interaksi yang berlangsung dinamis tersebut juga mencerminkan komitmen bersama untuk menjaga persatuan serta membangun sinergi dalam menghadapi berbagai tantangan kebangsaan ke depan, di tengah dinamika politik yang terus berkembang.
Hasto mengungkapkan Megawati menganggap pertemuannya dengan Prabowo sebagai ajang silaturahmi dua orang sahabat yang sudah lama saling mengenal.
”Ibu Megawati Soekarnoputri sudah bertemu dengan Bapak Presiden Prabowo beberapa hari yang lalu. Bahkan pertemuan dikatakan oleh Ibu Mega sebagai pertemuan ‘teman lama’,” kata Hasto dalam konferensi pers di Gedung B Kantor DPP PDIP, di Menteng, Jakarta, Sabtu (21/3/2026).
Hasto menambahkan, durasi pertemuan yang cukup lama di Istana tersebut dimanfaatkan kedua tokoh bangsa untuk berdiskusi mendalam. Keduanya tidak hanya bernostalgia, namun juga membahas berbagai persoalan strategis yang tengah dihadapi bangsa dan negara saat ini.
”Pertemuannya berlangsung sangat akrab, membahas berbagai persoalan bangsa dan negara,” ujar Hasto.
Bagi PDIP, pertemuan tersebut merupakan manifestasi dari jati diri bangsa yang mengedepankan dialog dan musyawarah.
Hasto juga menanggapi pertanyaan mengenai kemungkinan silaturahmi Megawati dengan para mantan presiden lainnya pada momen Idul Fitri 1447 Hijriah.
Hasto menegaskan bahwa esensi Lebaran bagi Megawati adalah semangat persaudaraan yang bersifat universal.
Hasto pun mengingatkan bahwa tradisi halalbihalal yang kini menjadi budaya nasional merupakan warisan ideologis dari Presiden ke-1 RI Bung Karno.
Secara historis, istilah halalbihalal dicetuskan pada 1948 oleh Kiai Haji Abdul Wahab Chasbullah atas saran Bung Karno untuk mencairkan ketegangan politik nasional kala itu melalui momentum Idul Fitri.
”Dalam Idul Fitri ini kan semua mengedepankan semangat persaudaraan. Itu yang dikedepankan, semangat maaf-memaafkan,” kata Hasto.
Menurut Hasto, tradisi ini adalah kekuatan asli kebudayaan Indonesia yang harus terus dijaga oleh para elite politik.
”Dan itu kan dirintis oleh Bung Karno melalui halalbihalal, yang merupakan tradisi merayakan Idul Fitri yang sangat khas Indonesia dan betul-betul berkebudayaan Indonesia,” tutur Hasto.
Sebelumnya, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya melalui keterangan tertulisnya menyebutkan pertemuan dua tokoh bangsa tersebut digelar menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah.
“Di hari ke-29 bulan Ramadan menjelang Idulfitri 1447 H, Presiden Prabowo Subianto menerima kedatangan Presiden RI ke-5, Ibu Megawati Soekarnoputri di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis, 19 Maret 2026,” tulis Seskab Teddy.
Seskab menjelaskan pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan sebagai bagian dari silaturahmi menjelang Idulfitri. Momen ini mencerminkan nilai kebersamaan dan persatuan di antara para pemimpin bangsa.
“Kedua pemimpin bangsa tersebut bersilaturahmi secara kekeluargaan menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah,” lanjut Seskab.















