Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (foto dok:@pinterest)

Beranda / Ekonomi / Karung Gabah Langka Hingga Biaya Logistik Melonjak

Karung Gabah Langka Hingga Biaya Logistik Melonjak

PravadaNews – Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran ternyata memberikan dampak nyata hingga ke Indonesia. Gangguan ini tidak hanya terasa pada aspek transportasi global, tetapi juga merembet ke kebutuhan penunjang sektor pangan, seperti ketersediaan bahan baku plastik.

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, mengaku telah menerima keluhan langsung dari pelaku usaha di lapangan. Salah satu masalah yang dihadapi adalah sulitnya mendapatkan karung untuk wadah gabah, yang dipicu oleh lonjakan harga dan kelangkaan bahan baku plastik akibat gejolak di pasar global.

Baca juga: Zulhas Pastikan Ketahanan Pangan Aman

“Misalnya sekarang plastik. Plastik itu luar biasa naiknya. Tadi ada yang mengadu kepada saya dari Kalimantan Barat. Mau beli gabah, karungnya nggak ada, karena karungnya dari plastik, jadi memang ada dampak kesulitan di situ,” ucap Zulhas di Jakarta Pusat,di kutip Rabu (7/4/2026).

Selain kendala bahan baku, jalur distribusi global juga mengalami gangguan serius. Penutupan akses di Selat Hormuz memaksa rute pengiriman barang melalui laut harus berputar lebih jauh. Konsekuensinya, waktu pengiriman menjadi jauh lebih lama dan biaya angkut pun ikut membengkak.

“Sekarang ini transportasi laut itu putar ya tentu ongkos naik. Tadi misalnya 20 hari, sekarang bisa 60 hari ya, yang tadinya 30 hari sekarang 60 hari,” tambah Zulhas.

Dampak konflik juga merembet ke sektor transportasi udara. Meroketnya harga bahan bakar pesawat atau avtur dipastikan akan membebani biaya operasional maskapai, yang berpotensi diikuti oleh penyesuaian harga tiket bagi masyarakat.

“Avtur yang naik sehingga ongkos pesawat boleh (naik) 13%. Itu dampak daripada apa yang terjadi di kawasan perang Amerika-Iran-Israel,” jelas Zulhas.

Di tengah berbagai tekanan eksternal tersebut, Zulhas menegaskan bahwa posisi Indonesia cukup kuat. Berkat capaian swasembada pangan, ketersediaan komoditas pangan utama nasional dinilai aman dan tidak akan ikut terombang-ambing oleh gejolak harga global.

“Beras aman, tidak ada kenaikan apapun. Sampai tahun 2026 beras kita aman, bahkan saya kira 2027,” kata Zulhas.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *