PravadaNews – Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei mengaku telah mendokumentasikan penggunaan infrastruktur di negara-negara Teluk Persia untuk menyerang Iran.
“Kami menganggap setiap penggunaan fasilitas atau wilayah negara-negara ini untuk agresi terhadap Iran, baik peluncuran rudal, peluncuran drone, pengisian bahan bakar, atau dukungan logistik apa pun, sebagai bagian dari agresi militer AS-Zionis,” kata Baghaei, dikutip Kamis (16/4/2026), melansir Press TV.
Baca Juga: RI–China Perkuat Desa Tertinggal
Baghaei mengatakan setiap bantuan kepada negara-negara agresor menimbulkan tanggung jawab internasional bagi negara-negara yang membantu.
“Ini adalah prinsip yang diterima dalam hukum internasional, yang dinyatakan dengan jelas dalam resolusi Majelis Umum PBB tentang Definisi Agresi dan ditegaskan oleh prinsip-prinsip umum hukum internasional,” kata Baghaei
“Semua kasus yang telah kami ketahui telah didokumentasikan oleh angkatan bersenjata dan sedang ditindaklanjuti dengan serius,” tambah Baghaei.
Baghaei memperingatkan bahwa negara-negara yang terlibat dalam bantuan tersebut akan dimintai pertanggungjawaban.
Kehadiran AS memicu ketidakamanan
Juru bicara tersebut menggambarkan prospek yang cerah untuk hubungan Iran dengan negara-negara regional, asalkan semua pihak belajar dari peristiwa-peristiwa baru-baru ini.
“Pelajaran pertama adalah bahwa kehadiran militer AS di kawasan ini memicu ketidakamanan dan bukan menciptakan keamanan,” kata Baghaei.
“Kedua, keamanan regional hanya akan tercapai melalui kerja sama dan kolaborasi antar negara-negara regional,” sambung Baghaei.
“Ketiga, negara-negara regional tidak boleh membiarkan rezim Zionis dan AS menggunakan fasilitas, wilayah, dan kapasitas mereka untuk tindakan agresif terhadap negara lain.”
Baghaei menyatakan harapan bahwa pemerintah regional akan mengakhiri penyediaan fasilitas, baik disengaja maupun tidak disengaja, untuk serangan AS-Israel terhadap Iran.
“Hubungan antara Iran dan negara-negara regional harus didasarkan pada hubungan bertetangga yang baik, persahabatan, dan saling menghormati kedaulatan dan integritas wilayah masing-masing,” pungkas Baghaei.















