PravadaNews – Presiden Prabowo Subianto mengangkat Jumhur Hidayat sebagai Menteri Lingkungan Hidup (LH).
Jumhur menegaskan, jabatan tersebut bukan sekadar posisi strategis, melainkan tanggung jawab besar yang menuntut kerja keras dan komitmen kuat dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan.
“Menteri LHK banyak tugas dan harus kita tuntas kerja keras,” ujar Jumhur kepada wartawan di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pekan lalu.
Baca juga: Menteri LH Akui Sulit Atasi Sampah Laut
Guru Besar Ilmu Politik Universitas Andalas (Unand), Prof Asrinaldi menanggapi diangkatnya Jumhur yang sudah aktivis buruh menjadi Menteri LH.
Asrinaldi menilai, ada punya pemerintah untuk mengkondisikan gerakan buruh.
“Banyak orang mengaitkan aspek ini ya, karena buruh 1 Mei kan mau demonstrasi dan ini bisa menjadi pemicu untuk demonstasi hal-hal lain ya,” kata Asrinadli kepada PravadaNews, Kamis (30/4/2026).
Asrinaldi mengataka, kondisi Indonesia saat ini sedang tidak baik-baik saja. Hantaman gejolak di geopolitik politik sudah mulai dirasakan.
“Karena kondisi kita ini memang agak memburuk ya,” ujar Asrinadli.
Asrinaldi mengatakan, pengangkatan Jumhur sebagai menteri karena aktivis buruh itu sangat memahami siapa saja yang menjadi aktor di balik gerakan buruh.
“Jumhur barangkali kenal dengan gerakan buruh ini dan sangat paham siapa yang menjadi otak di belakang gerakan demonstrasi ini itu lah barangkali digunakan dalam tanda kutip untuk bisa memnfasilitasi tuntutan buruh,” kata Asrinaldi.
Asrinaldi memandang, jika tuntutan buruh tidak dipenuhi oleh pemerintah akan memicu gejolak lain.
“Ini yang dikhawatirkan dan saya yakin sekali ini menjadi gerakan massa. Ini yang susahnya karena kondisi kita memang tinggal pemicunya saja ini,” imbuh Asrinaldi.
“Dan, kondisi bangsa sedang tidak baik baik saja harus diantisipasi segera oleh pemerintahan Prabowo,” pungkas Asrinaldi.















