Guru Besar IPB University sekaligus Research Associate Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Dwi Andreas Santosa. (Foto: Dok. Nur Aida/PravadaNews)

Beranda / Ekonomi / Bawang Putih Sulit Susul Target Swasembada

Bawang Putih Sulit Susul Target Swasembada

PravadaNews – Target swasembada bawang putih dalam tiga tahun masih menghadapi persoalan produksi dalam negeri yang belum mampu mengejar kebutuhan nasional.

Persoalan tersebut bukan hal baru karena program swasembada telah berjalan sejak 2017, tapi ketergantungan terhadap pasokan luar negeri belum terputus.

Di sisi produksi, bawang putih lokal juga menghadapi biaya tinggi, keterbatasan lahan dataran tinggi, serta produktivitas yang masih tertinggal.

Menanggapi hal ini, Research Associate Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Dwi Andreas Santosa menilai, swasembada bawang putih sulit dicapai apabila persoalan tersebut belum teratasi.

“Kalau menurut saya, untuk bawang putih sangat sulit, ya. Karena sebenarnya program swasembada bawang putih itu kan sudah lama,” jelas Andreas dalam diskusi yang diadakan CORE Indonesia, Sabtu (15/8/2026).

Pemerintah sebelumnya mencanangkan swasembada pada 2017 dengan target dua tahun dan mewajibkan importir menanam setara 5% volume impornya. Namun, target 2019 tidak tercapai dan kemudian digeser menuju 2021.

Adapun Guru Besar IPB University tersebut mencatat impor bawang putih sekitar 450 ribu ton pada 2014 justru meningkat menjadi sekitar 660 ribu ton pada 2021.

Daya saing produksi juga menjadi persoalan karena ongkos bawang putih domestik ketika program berjalan mencapai sekitar Rp21.000 per kilogram. Sementara itu, produk impor tiba di pelabuhan dengan harga sekitar Rp8.000 per kilogram.

Selain biaya, lanjut Andreas, perluasan produksi kuga terbentur kebutuhan lahan dengan karakteristik tertentu.

“Bawang putih menghendaki ketinggian tertentu. Di atas 800 meter untuk penanaman bawang putih, dan kita tahu persis pada ketinggian tersebut, komoditas-komoditas bernilai ekonomi tinggi rebutan lahan,” ungkap peneliti ini.

Kondisi itu membuat bawang putih harus bersaing dengan komoditas hortikultura lain yang memberikan nilai ekonomi lebih menarik bagi petani dataran tinggi.

Persoalan tersebut diperberat kesenjangan hasil panen. “Produktivitas bawang putih kita itu hanya sepertiga produktivitas bawang putih di China,” ujar Andreas.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menargetkan Indonesia dapat mencapai swasembada bawang putih dalam tiga tahun melalui penguatan kemandirian pangan nasional.

Dalam Pidato Kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI, Jumat (14/8), Prabowo menyatakan pemerintah masih mengejar swasembada bawang putih dalam tiga tahun mendatang.

“Kita masih belum swasembada bawang putih, kita berjuang agar dalam tiga tahun kita bisa mencapai swasembada bawang putih,” kata Presiden Indonesia ke-8 ini.

Target ini membuat upaya meningkatkan produksi domestik kembali berhadapan dengan persoalan biaya, lahan, dan produktivitas yang telah muncul sejak program swasembada sebelumnya.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *