Salah satu toko beras tradisional di Gunung Sindur, Kabupaten Bogor.

Beranda / Ekonomi / Beras Premium Hanya Langka di Ritel Modern

Beras Premium Hanya Langka di Ritel Modern

PravadaNews — Kelangkaan beras premium kemasan 5 kilogram (kg) terjadi di sejumlah ritel modern di Gunung Sindur, Kabupaten Bogor. Namun, kondisi berbeda terlihat di pasar tradisional karena pedagang menyebut pasokan beras masih aman.

Pedagang beras di Pasar Jengkol, Gunung Sindur, mengatakan stok beras premium dan medium masih tersedia. Harga beras premium memang mengalami kenaikan tipis, tetapi beras medium justru turun sekitar Rp1.000.

“Pasokannya masih aman,” ujar pedagang tersebut saat ditemui di Pasar Jengkol, Gunung Sindur, Kamis (1/10/2026).

Kondisi tersebut berbeda dengan sejumlah ritel modern yang mengalami kekosongan beras premium kemasan 5 kg. Di salah satu Alfamart, pegawai menyebut stok beras kemasan tersebut telah kosong selama sekitar dua bulan.

Kekosongan juga ditemukan di Indomaret. Beras premium dari berbagai merek disebut telah tidak tersedia selama lebih dari satu bulan.

Badan Pangan Nasional (Bapanas) sebelumnya telah menjelaskan penyebab terbatasnya stok beras premium di sejumlah ritel modern. Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas Hermawan memastikan kondisi tersebut bukan akibat krisis pasokan beras.

Menurut Hermawan, salah satu faktor yang memengaruhi stok di ritel modern adalah penghentian produksi dan penarikan beras fortifikasi yang bermasalah dalam label dan mutu. Produk tersebut sebelumnya dipasarkan oleh sejumlah produsen melalui ritel modern.

“Terkait terbatasnya stok di ritel modern, itu adalah sebagai efek mungkin yang produsen-produsen yang kemarin menyalurkan beras fortifikasi ke ritel modern, itu kan tidak boleh lagi memproduksi beras fortifikasi dikarenakan banyak yang bermasalah,” ujar Hermawan dalam keterangan tertulis, Rabu (30/9/2026).

Bapanas menyebut terdapat 25 merek beras fortifikasi dari 11 pelaku usaha yang tengah ditindaklanjuti. Satgas Pangan Polri juga telah memerintahkan penarikan hampir 90 persen produksi yang bermasalah dari peredaran.

Hermawan juga menduga ada pihak yang memanfaatkan kondisi tersebut untuk menciptakan kelangkaan semu. Kondisi itu dinilai dapat mendorong kenaikan harga beras di tingkat konsumen.

“Ini masalahnya banyak oknum-oknum nih atau istilah kata Pak Mentan/Kepala Bapanas, mafia yang memanfaatkan kondisi saat ini untuk menaikkan harga,” kata Hermawan.

Di sisi lain, Bapanas memastikan pasokan beras premium dan medium di pasar tradisional masih tersedia. Berdasarkan pemantauan di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) Jakarta, harga beras premium berada di kisaran Rp14.200 per kg.

Harga tersebut masih berada di bawah HET beras premium Zona I sebesar Rp14.900 per kg. Hermawan mengatakan produsen juga cenderung menyalurkan beras ke pasar tradisional karena margin di ritel modern dinilai lebih tipis akibat adanya potongan terhadap produk yang dijual.

Sementara berdasarkan data harga rata-rata pangan per 1 Oktober 2026, sejumlah harga beras justru mengalami penurunan. Beras kualitas super I tercatat Rp17.350 per kg, turun Rp600 atau 3,34 persen.

Beras kualitas super II berada di level Rp16.600 per kg setelah turun Rp750 atau 4,32 persen. Harga beras medium I tercatat Rp16.400 per kg, turun Rp200 atau 1,2 persen, sedangkan medium II menjadi Rp16.150 per kg atau turun Rp250 atau 1,52 persen.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *