PravadaNews – Harga cabai merah di berbagai pasar tradisional kembali menunjukkan tren kenaikan yang cukup tajam. Kondisi ini membuat banyak pihak, mulai dari ibu rumah tangga hingga pelaku usaha kuliner, merasa “galau” menghadapi lonjakan harga yang dinilai semakin tidak terkendali.
Berdasarkan pantauan terbaru dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola oleh Bank Indonesia, dikutip pada Rabu (22/4/2026) pukul pukul 11:13, harga cabai merah besar mengalami kenaikan signifikan sebesar 10,25 persen, sehingga kini menyentuh angka Rp50.550 per kilogram.
Lonjakan ini tergolong tinggi dalam waktu singkat dan langsung berdampak pada biaya konsumsi harian masyarakat.
Tidak hanya cabai merah besar, jenis cabai merah keriting juga mengalami kenaikan yang bahkan lebih tinggi.
Baca juga: Harga Cabai Merah Keriting Melonjak Tajam
Harga cabai merah keriting tercatat naik sebesar 11,76 persen dengan harga terbaru mencapai Rp50.350 per kilogram. Kenaikan serentak pada dua jenis cabai ini semakin memperkuat tekanan di pasar bahan pangan.
Kenaikan harga cabai merah ini diperkiirakan dipengaruhi oleh berkurangnya pasokan dari sentra produksi. Faktor cuaca yang tidak menentu, seperti curah hujan tinggi, disebut menjadi salah satu penyebab utama terganggunya hasil panen.
Selain itu, distribusi yang kurang lancar turut memperparah kondisi pasokan di pasar.
Di sisi lain, permintaan cabai yang relatif stabil bahkan cenderung meningkat, terutama dari sektor rumah tangga dan industri kuliner, turut mendorong harga semakin meroket.
Ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan ini menjadi faktor klasik yang kembali terulang dalam dinamika harga cabai.
Para konsumen mengaku harus memutar otak untuk menyiasati kenaikan harga ini. Sebagian memilih mengurangi penggunaan cabai dalam masakan, sementara yang lain beralih ke alternatif bahan yang lebih terjangkau.
Seperti yang dialami Iin, seorang ibu rumah tangga yang tinggal di kawasan Tanah Kusir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Iin mengaku harus mengubah pola konsumsi hariannya akibat lonjakan harga cabai yang terus terjadi.
Jika sebelumnya ia biasa menggunakan cabai hingga setengah kilogram per hari untuk kebutuhan memasak, kini Iin terpaksa menguranginya menjadi hanya seperempat kilogram per hari.
“Harga cabai lagi mahal, sekarang seharinya pakai seperempat kilo untuk masak, biasanya sih setengah kilo,” ujar Iin kepada PravadaNews.
Menurut Iin, keputusan tersebut bukan tanpa alasan. Selain harga cabai yang semakin mahal, pengeluaran rumah tangga juga harus tetap dijaga agar tidak membengkak.
Iin pun mulai menyiasati penggunaan cabai dengan mengurangi tingkat kepedasan masakan, tanpa menghilangkan cita rasa secara keseluruhan.
Kondisi ini, kata Iin, tidak hanya dirasakan oleh dirinya sendiri, tetapi juga oleh banyak ibu rumah tangga lainnya di lingkungan tempat tinggalnya. Mereka terpaksa lebih cermat dalam mengatur belanja harian, termasuk memilih bahan pangan yang lebih terjangkau sebagai alternatif.
Dengan kejadian seperti itu, pemerintah diharapkan dapat segera mengambil langkah strategis untuk mengendalikan harga, seperti memperlancar distribusi dari daerah produksi, mengoptimalkan peran cadangan pangan, serta melakukan operasi pasar bila diperlukan.
Stabilitas harga cabai dinilai penting karena komoditas ini memiliki peran besar dalam konsumsi harian masyarakat Indonesia.
Dengan situasi yang masih berfluktuasi, masyarakat diimbau untuk tetap bijak dalam berbelanja dan tidak melakukan pembelian berlebihan.
Sementara itu, pelaku usaha berharap adanya kepastian pasokan agar harga dapat kembali stabil dan aktivitas ekonomi tidak terganggu secara berkepanjangan.















