PravadaNews – Upaya meredakan perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran memasuki fase buntu pada bulan ketiga konflik. Meski gencatan senjata yang terus diperpanjang sejak 7 April masih bertahan, belum ada kemajuan berarti dalam perundingan yang digelar untuk mengakhiri eskalasi militer tersebut.
Putaran pertama negosiasi antara Washington dan Teheran yang berlangsung di Islamabad pada 11–12 April tidak menghasilkan kesepakatan.
Sejumlah isu krusial masih menjadi penghalang utama, mulai dari status blokade AS terhadap pelabuhan Iran, masa depan pengayaan uranium oleh Teheran, hingga ketegangan di kawasan strategis Selat Hormuz.
“Belum ada titik temu pada isu-isu kunci yang menentukan arah akhir konflik,” demikian laporan tersebut, dikutip Rabu (6/5/2026).
Baca juga : Iran Klaim AS Respons Proposal Damai
Iran pada 30 April kemudian mengajukan rencana perdamaian berisi 14 poin yang diserahkan melalui Pakistan. Proposal itu, menurut Teheran, juga mendorong percepatan kesepakatan agar jalur pelayaran minyak global di Selat Hormuz kembali dibuka secara penuh.
Namun respons Washington jauh dari positif. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Minggu (3/5) menyatakan bahwa usulan terbaru Iran tidak dapat diterima.
“Usulan terbaru dari Iran yang sudah saya pelajari secara teliti tersebut tak dapat diterima,” kata Trump.
Di tengah kebuntuan diplomatik tersebut, dampak ekonomi konflik mulai meluas ke berbagai negara. Tekanan utama terlihat pada sektor energi global yang ikut terguncang akibat ketidakpastian pasokan.
Sejumlah pemerintah telah mengambil langkah mitigasi. Belanda, misalnya, mengumumkan paket bantuan hampir 1 miliar euro atau sekitar Rp20,2 triliun untuk meredam lonjakan biaya energi rumah tangga. Di Asia, Korea Selatan mengimbau penghematan energi, sementara Malaysia mendorong kebijakan kerja dari rumah untuk menekan konsumsi listrik nasional.















