PravadaNews – Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Rusia membahas peluang kerja sama di bidang energi. Kerja sama ini sebagai langkah pemerintah Indonesia untuk mencari pasokan energi selain dari Timur Tengah.
Sebab, pasokan energi dari Timur Tengah saat ini alami gangguan akibat konflik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran. Terbaru, Washinton melakukan blokade di perairan Selat Hormuz yang menjadi jalur energi global.
Kerja sama energi itu untuk memastikan pasokan minyak mentah (crude) dan Liquefied Petroluem Gas (LPG).
Baca Juga: Hanya 36% Pekerja Bergaji di Atas UMP
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia mengatakan, Rusia siap mendukung ketahanan energi Indonesia dengan menyuplai minyak dan gas bumi (Migas) dan penyimpanan (strorage).
Alhamdulillah apa yang sudah menjadi kesepakatan itu, kita mendapatkan hasil yang cukup baik dimana kita bisa mendapatkan cadangan crude kita untuk kita nambah. Di samping itu juga kita akan bisa mendapatkan LPG,” kata Bahlil seusai pertemuan dengan Menteri Energi Rusia Sergey Tsivilev di Kantor Kementerian Energi Moskow, Rusia, dikutip Rabu (15/4/2026).
Bahlil mengatakan, kerja sama antara Indonesia-Rusia di bidang energi ini melalui skema Government to Government atau G2G) maupun business-to-business (B2B), yang diharapkan dapat memberikan kepastian terhadap ketersediaan cadangan energi nasional, khususnya untuk minyak mentah dan LPG di Indonesia.
Lebih lanjut Bahlil menyampaikan, Indonesia terbuka untuk memperluas ruang kolaborasi dengan Rusia, termasuk pada pengembangan storage, crude, pasokan jangka panjang minyak mentah dan LPG, penjajakan nuklir, serta kerja sama di sektor mineral.
“Kita ingin semua ini betul-betul memberi kepastian bagi ketahanan energi nasional,” jelas Bahlil.
Ketua Umum Partai Golkar itu menilai, hasil pertemuan itu memberi sinyal positif bagi penguatan ketahanan energi nasional di tengah dinamika global yang tidak menentu.
Bahlil menilai, kemitraan dengan Rusia dapat menjadi salah satu opsi penting, mengingat kapasitas produksi energi negara tersebut yang besar serta pengalamannya dalam industri minyak dan gas.
“Sekali lagi saya merasa senang hari ini karena atas arahan Bapak Presiden Prabowo untuk menindaklanjuti secara tuntas. Dan alhamdulillah sekali lagi saya katakan bahwa insyaallah bisa kita mendapatkan yang baik,” kata Bahlil.
Di tengah volatilitas pasar energi dunia yang dipengaruhi faktor geopolitik dan fluktuasi produksi, pemerintah berupaya maksimal mencari sumber alternatif.
Rusia dinilai memiliki posisi strategis sebagai pemasok energi yang dapat diandalkan sekaligus mitra potensial untuk kerja sama jangka panjang. Dalam pertemuan bilateral ini, Rusia menyatakan kesiapan membantu Indonesia dalam memperkuat ketahanan energi.
“Sebagai mitra strategis, kami siap berkolaborasi terutama dalam penyediaan minyak dan gas, penyimpanan, maupun kelistrikan dalam hal ini pembangkit listrik tenaga nuklir”, jelas Sergey Tsivilev.
Pemerintah Indonesia memandang Rusia sebagai mitra penting dalam mendukung stabilitas dan menjaga kepentingan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi.
Langkah diplomasi ini menegaskan komitmen Indonesia untuk terus aktif, konstruktif, dan berorientasi pada kepentingan nasional di panggung global.















