PravadaNews – Presiden Komisi Eropa Ursula Von der Leyen menyatakan Uni Eropa tengah mengupayakan tercapainya penyelesaian jangka panjang atas konflik di Timur Tengah, sekaligus menekankan pentingnya pemulihan keamanan jalur pelayaran global di Selat Hormuz.
Dalam pidatonya di Parlemen Eropa, Von Der Leyen menyebut jeda pertempuran yang terjadi baru-baru ini membuka ruang bagi diplomasi. Von Der Leyen juga menyoroti perlunya menjaga gencatan senjata yang melibatkan Iran dan Lebanon sebagai bagian dari upaya stabilisasi kawasan.
“Tujuan bersama kita sekarang adalah untuk melihat adanya penyelesaian perang yang langgeng, dan ini termasuk memulihkan kebebasan dalam navigasi penuh dan permanen di Selat Hormuz tanpa pungutan tol,” kata Von Der Leyen, dikutip Kamis (30/4/2026).
Baca juga : Saudi Desak PBB Awasi Selat Hormuz
Von De Leyen menuturkan, setiap kesepakatan damai juga harus mencakup pembahasan mengenai program nuklir dan rudal balistik Iran.
Di sisi diplomasi, Uni Eropa disebut telah melakukan koordinasi dengan sejumlah negara kawasan, termasuk Mesir, Lebanon, Suriah, dan Yordania, serta Gulf Cooperation Council untuk meredam eskalasi konflik.
Namun, Von Der Leyen memperingatkan dampak ekonomi konflik diperkirakan bertahan lama, terutama pada sektor energi global akibat gangguan jalur pelayaran strategis.
“Tagihan impor bahan bakar fosil Eropa telah meningkat lebih dari 27 miliar euro dalam 60 hari konflik, tanpa satu molekul energi pun sebagai tambahan,” ujar Von Der Leyen.
Menurut Von Der Leyen, kondisi tersebut memperkuat urgensi pengurangan ketergantungan Uni Eropa terhadap impor energi fosil. Von Der Leyen mendorong percepatan transisi menuju energi bersih yang diproduksi di dalam negeri, dengan mengandalkan energi terbarukan dan nuklir sebagai pilar utama.
Von der Leyen juga menekankan perlunya koordinasi lebih erat antarnegara anggota dalam pengelolaan cadangan energi serta perlindungan terhadap rumah tangga dan industri rentan dari lonjakan harga energi.
Von Der Leyen menyebut negara dengan porsi energi rendah karbon lebih tinggi cenderung lebih tahan terhadap volatilitas harga global. Uni Eropa, kata dia, juga akan meluncurkan rencana aksi elektrifikasi pada musim panas sebagai bagian dari strategi modernisasi infrastruktur energi dan penguatan keamanan ekonomi kawasan.















