PravadaNews – Saat ini, pemerintah sedang mengejar pertumbuhan ekonomi 6% dalam RAPBN 2027 saat konsumsi rumah tangga yang menjadi penopang terbesar ekonomi masih menghadapi tantangan daya beli masyarakat.
Target tersebut dipasang dengan mempertimbangkan konsumsi rumah tangga yang menyumbang sekitar 53–54% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Karena itu, pemerintah menyiapkan strategi menjaga konsumsi sekaligus memperkuat investasi dan belanja negara sebagai penggerak ekonomi.
Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Nazara menyebut, konsumsi masyarakat menjadi faktor utama dalam mencapai target pertumbuhan ini.
“Yang paling penting adalah konsumsi masyarakat. Karena dia 53 persen dari keseluruhan Produk Domestik Bruto itu,” ujar Suahasil dilansir dari laman Kementerian Keuangan, Selasa (25/8/2026).
Selain menjaga konsumsi, pemerintah juga mendorong investasi melalui keterlibatan sektor swasta dan optimalisasi belanja negara agar memberikan dampak pengganda terhadap perekonomian.
Penguatan berbagai komponen PDB, jelas Suahasil, menjadi bagian dari strategi mencapai pertumbuhan 6% pada 2027.
Namun, Peneliti Center of Macroeconomics and Finance Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Abdul Manap Pulungan melihat target tersebut perlu diuji dengan kondisi fundamental ekonomi indonesia sekarang.
Realisasi pertumbuhan ekonomi sepanjang 2015–2025 disebut belum konsisten mencapai sasaran yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Abdul mencatat target pertumbuhan ekonomi baru tercapai pada 2022 dengan angka 5,31%. Capaian itu terjadi saat kenaikan harga komoditas global memberikan tambahan penerimaan negara.
“6 persen itu dapat dikatakan angka yang terlalu tinggi untuk situasi ekonomi saat ini, di mana fundamental ekonomi tidak begitu baik,” jelas Abdul Manap , Sabtu (15/8).
Kondisi konsumsi rumah tangga menjadi salah satu perhatian Abdul karena pertumbuhannya belum sepenuhnya ditopang kelompok masyarakat secara luas.
Menurutnya, konsumsi masih banyak berasal dari kelas atas, sementara daya tahan kelas menengah belum cukup kuat.
“Kelas menengah kita tidak kuat, melainkan rapuh, karena kelas menengah baru dipahami sebatas kontribusi konsumsi, belum pada bagaimana mereka bisa digerakkan untuk produksi,” ujar Ekonom itu.
Selain konsumsi, Abdul menyoroti perlambatan industri manufaktur yang selama ini berperan dalam menyerap tenaga kerja.
Penguatan sektor produktif diperlukan agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya meningkat secara angka, tapi juga menciptakan lapangan kerja berkualitas.
Pencapaian target ekonomi 6% akhirnya bergantung pada kemampuan pemerintah menjaga konsumsi sekaligus memperkuat sektor produksi.















