Pemerintah Indonesia memperkuat operasi terpadu pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan. (Foto: Dok. Kementerian Kehutanan)

Beranda / Nasional / Hotspot Karhutla RI Turun 56,2%

Hotspot Karhutla RI Turun 56,2%

PravadaNews – Langit Indonesia dalam sehari menunjukkan perubahan yang cukup signifikan. Setelah jumlah titik panas atau hotspot sempat mencapai 2.170 titik pada 19 Agustus 2026, angka tersebut turun tajam menjadi 950 titik sehari berikutnya.

Penurunan hingga 56,2 persen itu menjadi sinyal positif di tengah kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan yang masih menghantui sejumlah wilayah.

Berdasarkan data Kementerian Kehutanan yang bersumber dari pemantauan Satelit Terra-Aqua NASA, terdapat pengurangan sebanyak 1.220 titik panas secara nasional dalam periode tersebut.

Penurunan paling signifikan tercatat di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, dua wilayah yang menjadi bagian penting dalam pemantauan potensi karhutla seiring kondisi cuaca dan kerentanan lahan.

“Di Kalimantan Barat, hotspot turun dari 784 menjadi 82 titik, sedangkan di Kalimantan Tengah dari 694 menjadi 22 titik. Sementara di Kalimantan Selatan, hotspot berkurang dari 85 menjadi 12 titik,” kata Kabiro Humas dan Kerjasama Luar Negeri Kemenhut, Ristianto Pribadi, Jumat (21/8/2026).

Secara keseluruhan, jumlah hotspot di tiga provinsi tersebut turun dari 1.563 menjadi 116 titik atau sekitar 92,6 persen.

Meski menjadi perkembangan positif, Kemenhut menegaskan penurunan hotspot belum berarti seluruh kebakaran telah padam atau risiko karhutla berakhir.

Hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi sensor satelit dan tidak selalu identik dengan kejadian kebakaran.

Hasil pemantauan juga dapat dipengaruhi tutupan awan, kondisi atmosfer, waktu lintasan satelit, serta kemampuan sensor dalam mendeteksi panas.

“Karena itu, setiap informasi hotspot tetap perlu ditindaklanjuti melalui verifikasi lapangan. Kewaspadaan juga diperlukan karena sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam kondisi kemarau,” kata Ristianto.

Berdasarkan informasi BMKG 21 Agustus 2026, sebanyak 535 Zona Musim atau 76 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Selain itu, curah hujan kategori rendah mendominasi 90,79 persen wilayah.

Kondisi tersebut berlangsung di tengah fenomena El Niño yang telah mencapai intensitas sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif.

Kedua fenomena tersebut secara umum dapat mengurangi curah hujan dan meningkatkan risiko kekeringan serta karhutla.

Pantauan citra Satelit Himawari-9 BMKG pada 19 Agustus juga menunjukkan sebaran asap di sejumlah wilayah Sumatra bagian tengah dan selatan.

Sebagian asap terbawa pola angin hingga meluas ke wilayah sekitarnya.

“Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, kami terus memperkuat pengendalian karhutla melalui koordinasi, yakni dengan BMKG, BNPB, BPBD, TNI, Polri, pemerintah daerah, Masyarakat Peduli Api, pelaku usaha, dan relawan,” kata Ristianto.

Upaya dilakukan melalui pemantauan hotspot, patroli terpadu, verifikasi lapangan, pemadaman darat dan udara. Serta peningkatan kesiapsiagaan personel dan sarana prasarana.

Kementerian Kehutanan juga mengingatkan masyarakat dan pelaku usaha agar tidak membuka atau mengolah lahan dengan cara membakar.

Khususnya di kawasan gambut, semak belukar, dan wilayah yang mengalami kondisi kering berkepanjangan.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *