PravadaNews – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) harus mengakhiri penguatan tipisnya dan kembali masuk ke zona merah pada perdagangan awal pekan.
Sempat membuka sesi pertama dengan kenaikan ke level 6.446,90, laju indeks berbalik arah di tengah dinamika transaksi pasar hingga akhirnya ditutup melemah pada sesi I, Senin (21/9/2026).
IHSG terkoreksi 17,65 poin atau 0,27 persen ke level 6.423,51. Sepanjang sesi pertama, pergerakan indeks cukup fluktuatif dengan berada di rentang 6.388,25 hingga 6.451,33.
Perubahan arah tersebut mencerminkan tarik-menarik sentimen pelaku pasar yang membuat IHSG belum mampu mempertahankan penguatan di awal perdagangan.
“Secara teknikal, IHSG diprakirakan konsolidasi di kisaran level 6.400-6.550, jika tembus level 6.400. Untuk itu IHSG akan menguji level 6.300-6.350,” sebut Tim Phintraco.
Pelaku pasar juga mencermati hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu.
Phintraco memperkirakan Bank Indonesia masih mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75 persen.
Selain keputusan suku bunga, investor menantikan data pertumbuhan kredit Agustus 2026.
Pertumbuhan kredit diperkirakan mencapai 15 persen secara tahunan, meningkat dibandingkan Juli yang tercatat 13,58 persen.
Dari pasar global, bursa saham Amerika Serikat dan Asia bergerak beragam pada akhir pekan lalu.
“Imbal hasil US Treasury berbalik menguat karena ekspektasi kebijakan The Fed yang masih akan hawkish atau ketat hingga tahun depan,” sebut Tim Phintraco lagi.
Di Jepang, Bank of Japan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 1,25 persen. Level tersebut menjadi yang tertinggi sejak April 1995.
Sementara itu, harga minyak dunia masih berada di sekitar 100 dolar AS per barel meski mengalami penurunan. Harga minyak WTI ditutup turun 1,6 persen menjadi 100 dolar AS per barel.
Konflik di Timur Tengah berpotensi masih akan berpengaruh terhadap pergerakan indeks di bursa saham global.
Terutama melalui harga minyak, ekspektasi inflasi dan kenaikan suku bunga.
Investor juga akan mencermati pernyataan sejumlah pejabat The Fed mengenai arah kebijakan moneter berikutnya.
Pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping pada 23-25 September 2026 juga menjadi perhatian pasar.
Pergerakan IHSG pada sesi II selanjutnya akan menjadi perhatian investor setelah indeks ditutup melemah pada sesi pertama.
Pelaku pasar akan mencermati sentimen global dan perkembangan kebijakan moneter yang dapat memengaruhi pasar saham domestik.















