PravadaNews – Presiden Iran, Masoud Pezeshkian menyampaikan di Sidang Majelis Umum PBB ke-81 bahwa perang telah “dipaksakan” terhadap Republik Islam Iran.
Pezeshkian menegaskan bahwa Iran tidak akan pernah berhenti membela diri dan tidak menghindar dari perundingan demi mencapai perdamaian.
“Perang dipaksakan kepada kami, namun kami membuktikan bahwa kami tidak takut berperang untuk membela diri, dan kami juga tidak menghindar dari perundingan demi perdamaian, kami siap mengorbankan nyawa demi membela Iran yang kami cintai,” ujar Pezeshkian dalam pidatonya dikutip Kamis (24/9/2026).
Pezeshkian menyinggung pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut Iran sebagai teroris. Pezeshkian menegaskan bahwa Iran adalah korban dari terorisme.
“Saya berasal dari negara yang pemimpinnya dibunuh tanpa dasar hukum yang sah. Saya berasal dari negara di mana sebuah sekolah pernah dibom,” kata Pezeshkian.
Pezeshkian mengatakan, anak-anak telah menjadi korban pengeboman yang mengakibatkan mereka meninggal dunia.
“Israel dan Amerika Serikat menggunakan senjata mereka untuk membunuh anak-anak kami; padahal anak-anak kami tidak melakukan kesalahan apa pun,” jelas Pezeshkian.















