PravadaNews – Gelombang influenza mulai menunjukkan peningkatan di Indonesia dan sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara.
Di tengah aktivitas masyarakat yang terus bergerak, pemerintah kini memperkuat pemantauan untuk memastikan kenaikan kasus tersebut tidak berkembang menjadi ancaman kesehatan yang lebih luas.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat, hasil surveilans hingga minggu ke-38 tahun 2026 menunjukkan kasus influenza di Indonesia berada dalam rentang medium.
Angka tersebut menjadi sinyal bagi pemerintah untuk meningkatkan kewaspadaan sekaligus memastikan sistem pemantauan mampu mendeteksi perubahan situasi sejak dini.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan peningkatan kasus influenza perlu direspons dengan penguatan surveilans dan kesiapsiagaan.
Berdasarkan pemantauan yang dilakukan, surveilans influenza di tingkat puskesmas berada pada kategori sedang, sementara pemantauan di rumah sakit masih berada dalam kategori rendah.
Kondisi tersebut membuat pemerintah terus mengandalkan surveilans sebagai instrumen penting untuk membaca perkembangan influenza di masyarakat, sekaligus menyiapkan langkah antisipasi apabila terjadi perubahan pola penularan.
“Memang ada kenaikan kasus influenza di Indonesia dan Asia Tenggara, tetapi berdasarkan data surveilans, kondisinya dalam rentang medium. Karena itu, yang kita lakukan adalah meningkatkan surveilans dan kesiapsiagaan agar perkembangan kasus dapat terus dipantau,” ujar Budi dikutip dari laman kemkes.go.id, Sabtu (3/10/2026).
Menurut data Kemenkes, dari 265 spesimen yang diperiksa melalui surveilans sentinel, sebanyak 148 spesimen positif influenza.
Pada minggu ke-38 tahun 2026, virus yang dominan adalah Influenza A (H1N1pdm09).
Menkes Budi mengatakan, jumlah temuan subclade K yang disebut sebagai ‘superflu’ mengalami penurunan dibandingkan tahun lalu.
Lanjutnya, Kementerian Kesehatan tetap melakukan pemantauan melalui surveilans yang melibatkan puskesman, rumah sakit, laboratorium atau kekarantinaan Kesehatan.
“Untuk ‘superflu’ atau H3N2 subclade K, justru menunjukkan jumlah temuannya pada tahun ini lebih rendah dibandingkan tahun lalu. Jadi, kita perlu membedakan antara informasi yang beredar dengan kondisi berdasarkan data surveilans,” kata Menkes Budi.
Dilansir dari Halodoc, penyakit influenza merupakan infeksi pernapasan menular yang disebabkan oleh virus influenza.
Penyakit ini secara khusus menyerang hidung, tenggorokan, dan paru-paru dengan gejala yang lebih parah dari sekedar pilek biasa.
Gejala yang seringkali dirasakan; demam tinggi, batuk kering yang peristen, sakit kepala parah, nyeri otot hingga kelelahan ekstrem.
Sebagian penderita juga merasakan sakit tenggorokan, hidung tersumbat dan juga pilek.
Virus influenza termasuk yang sangat mudah menular dari satu individu ke individu lainnya.
Penularan virus dapat terjadi melalui percikan air liur ketika penderita batuk, bersin atau berbicara.
Melalui situs Halodoc, pengobatan sementara yang dapat dilakukan ketika mendapati gejala influenza Adalah dengan istirahat dan pemulihan tubuh.
Obat-obatan pereda nyeri dan penurun demam tanpa resep, seperti parasetamol atau ibuprofen, dapat membantu mengurangi ketidaknyamanan.
Untuk mencegah Risiko tertular dan menyebarkan influenza, penting untuk melakukan vaksinasi tahunan.
Cara ini paling efektif untuk melindungi diri dari virus dan membentuk sistem kekebalan tubuh.
Selain itu, menjaga kebersihan diri dan menghindari kontak dengan orang lain yang sedang sakit juga penting dilakukan.
Apabila gejala influenza tidak kunjung reda, maka disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter untuk penanganan lebih lanjut.
Kemenkes menghimbau masyarakat tetap waspada dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala influenza.
Kelompok rentan seperti bayi dan anak kecil, lanjut usia, dan ibu hamil memiliki risiko komplikasi yang lebih tinggi.















