Jajaran pemain film Perayaan Pertama. (Foto: Dok. Poplicist)

Beranda / Infotaiment / Kilas Balik Imlek 2000 di Film Perayaan Pertama

Kilas Balik Imlek 2000 di Film Perayaan Pertama

PravadaNews – Studio Antelope merampungkan syuting film Perayaan Pertama yang mengangkat kisah tiga kakak beradik Tionghoa Indonesia menjelang Tahun Baru Imlek 2000.

Film karya Jason Iskandar ini berlatar masa setelah Reformasi, ketika masyarakat Tionghoa kembali bisa merayakan Imlek secara terbuka. Di tengah perubahan tersebut, tiga bersaudara berusaha memperbaiki hubungan sekaligus memahami identitas masing-masing.

Penulis sekaligus sutradara Jason Iskandar mengangkat cerita itu dari pengalaman pribadinya sebagai orang Tionghoa Indonesia. 

Sejak kecil, Jason mengaku mengalami pergulatan dalam memahami identitasnya sendiri.

“Sejak kecil, saya memiliki hubungan yang penuh pergulatan dengan identitas saya sebagai orang Tionghoa Indonesia. Lewat film Perayaan Pertama, saya ingin mengeksplorasi pergulatan itu melalui kisah tiga kakak beradik yang berusaha terhubung kembali, bukan hanya dengan satu sama lain, tetapi juga dengan diri mereka sendiri,” ungkap Jason dalam keterangan resmi Studio Antelope, Rabu (14/10/2026).

Dalam catatan sutradara di laman Studio Antelope, Jason mengenang keluarganya yang kembali merayakan Imlek setelah tahun 2000. Saat masih kecil, Jason juga mulai melihat dekorasi Imlek dan pertunjukan barongsai bermunculan di berbagai tempat.

Kisah keluarga ini dibintangi oleh Aktor Morgan Oey, Aktris Ladya Cheryl, dan Aktris Abby Latip. Film tersebut sekaligus menandai kembalinya Ladya ke layar lebar setelah terakhir bermain film pada 2021.

Sebelumnya, Ladya meraih Piala Citra Pemeran Utama Perempuan Terbaik pada Festival Film Indonesia (FFI) 2022, sedangkan Morgan masuk nominasi pemeran utama pria pada FFI 2025. 

Sementara itu, Perayaan Pertama menjadi debut film panjang Abby setelah membintangi film pendek, serial, dan video musik.

Di balik produksinya, film Perayaan Pertama telah dikembangkan sejak 2015 melalui sejumlah program perfilman internasional sebelum syuting rampung pada 2026.

Produser, Florence Giovani, mengatakan proses ini memberikan kesempatan bagi tim untuk berdiskusi dengan berbagai pelaku industri film.

“Berbagai perspektif yang kami dapatkan turut memperkaya cerita ini, sehingga kami berharap kisah yang berangkat dari pengalaman keluarga Tionghoa Indonesia ini juga dapat terasa dekat dan relevan bagi penonton dari berbagai latar belakang,” ujar Florence dalam kesempatan yang sama.

Adapun latar Imlek 2000 dalam film berkaitan dengan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina. Aturan tersebut membatasi perayaan budaya Tionghoa di ruang publik dan mengarahkan pelaksanaannya ke lingkungan keluarga.

Pembatasan itu kemudian dicabut Presiden Indonesia ke-4, Abdurrahman Wahid melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 6 Tahun 2000 tentang Pencabutan Inpres Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina. Sejak 17 Januari 2000, kegiatan budaya dan keagamaan Tionghoa tidak lagi memerlukan izin khusus.

Meski sudah bisa dirayakan secara terbuka pada 2000, Imlek baru ditetapkan sebagai hari nasional melalui Keppres Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hari Tahun Baru Imlek.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *