PravadaNews – Berakhirnya penyelenggaraan ibadah haji 2026 tak lantas membuat suasana persiapan menuju Tanah Suci benar-benar usai.
Di berbagai daerah, para calon jemaah yang dijadwalkan berangkat pada musim haji 2027 mulai satu per satu melengkapi dokumen perjalanan, memeriksa kesehatan, hingga menjaga kebugaran fisik demi menyambut panggilan yang telah lama dinantikan.
Salah satu pemandangan itu terlihat di Kantor Imigrasi Tangerang, Selasa (4/8/2026). Di tengah aktivitas pemohon paspor, pasangan suami istri Yuyun (58) dan Siti Aminah (54) tampak mengurus sendiri perpanjangan paspor yang masa berlakunya akan habis pada Maret 2027.
Bagi pasangan yang tergabung dalam Kelompok Bimbingan Ibadah Haji Al Kautsariyah El Yasin tersebut, perpanjangan paspor bukan sekadar urusan administrasi.
Dokumen itu menjadi salah satu tanda bahwa penantian belasan tahun untuk menunaikan rukun Islam kelima semakin mendekati kenyataan.
Meski pihak yayasan menawarkan layanan pengurusan paspor secara kolektif, keduanya memilih datang langsung ke kantor imigrasi. Pertimbangannya sederhana, yakni menghemat pengeluaran karena biaya mengurus sendiri dinilai lebih murah.
“Kita ini kan udah pensiunan, udah nggak ada yang kerja, jadi dihemat-hemat pengeluarannya. Selama masih bisa urus sendiri ya mending urus sendiri,” ujar Siti Aminah.
Bagi pasangan tersebut, setiap rupiah yang dihemat menjadi bagian dari ikhtiar mempersiapkan perjalanan suci. Sebab setelah memasuki masa pensiun, mereka berusaha mengelola keuangan dengan lebih cermat sambil menanti keberangkatan yang tinggal menghitung bulan.
Kabar bahwa mereka mendapat porsi haji pada 2027 menjadi kebahagiaan yang tak mudah dilupakan. Penantian itu dimulai sejak keduanya mendaftarkan diri sebagai calon jemaah haji pada 2013.
Siti menceritakan, perjalanan menunggu antrean haji penuh dinamika. Saat pertama kali mendaftar, estimasi keberangkatan mereka jatuh pada 2026. Belakangan sempat maju menjadi 2024 setelah adanya kebijakan penambahan kuota, namun pandemi Covid-19 kembali mengubah seluruh jadwal hingga mundur ke 2031.
Harapan itu kembali tumbuh ketika mereka mengecek antrean pada 2025. Di luar dugaan, estimasi keberangkatan justru maju menjadi 2027 sehingga impian yang sempat terasa jauh kini berada di depan mata.
“Dulu ketika awal daftar estimasi dapet porsi tahun 2026, lalu ada kebijakan dari Raja Salman maju ke tahun 2024. Tapi kemudian karena ada Covid-19 mundur ke 2031. Eh alhamdulillah pas ngecek tahun 2025 ternyata maju ke 2027,” tutur Siti.
Yuyun mengaku masih sulit menyembunyikan rasa syukur setelah mengetahui kepastian tersebut. Penantian panjang yang berlangsung lebih dari satu dekade akhirnya menemukan ujungnya.
“Alhamdulillah akhirnya setelah penantian panjang insyaallah dapat porsi untuk tahun depan,” kata Yuyun.
Namun, bagi mereka, persiapan haji tidak berhenti pada kelengkapan dokumen perjalanan. Sejak memperoleh kepastian keberangkatan, keduanya mulai membiasakan diri menjaga kondisi tubuh agar siap menjalani rangkaian ibadah yang dikenal membutuhkan stamina prima.
Hampir setiap pagi, Yuyun dan Siti berlari atau berjalan santai sejauh lima hingga tujuh kilometer mengelilingi kawasan tempat tinggal mereka. Aktivitas itu dilakukan sebagai latihan agar tubuh terbiasa dengan mobilitas tinggi selama berada di Tanah Suci.
“Insyaallah kita setiap hari lari pagi atau jalan santai sekitar 5-7 kilometer di sekitar perumahan. Karena ibadah haji itu kan katanya ibadah fisik. Jadi kita berharap dengan persiapan yang maksimal, nanti ketika di sana tidak mendapat kendala dan bisa menjalani semua rukun dan syariatnya dengan baik,” ujar Yuyun.
Di saat ribuan jemaah haji Indonesia 2026 baru saja kembali ke Tanah Air membawa cerita dan pengalaman spiritual, calon jemaah haji 2027 seperti Yuyun dan Siti telah memulai babak baru persiapan.
Dari mengurus paspor, menjaga kesehatan, hingga menghemat pengeluaran, setiap langkah kecil menjadi bagian dari perjalanan panjang menuju Baitullah yang telah mereka nantikan selama bertahun-tahun.















