PravadaNews – Infrastruktur jalan masih menjadi salah satu tantangan utama dalam mendorong pembangunan di Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua Selatan.
Berdasarkan data terbaru dari Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Republik Indonesia, dikutip Selasa (4/8/2026), hanya 25,89 persen desa yang memiliki permukaan jalan utama beraspal, mencerminkan masih terbatasnya akses transportasi yang dapat menunjang mobilitas masyarakat dan distribusi barang.
Kabupaten Boven Digoel saat ini masih berstatus daerah tertinggal, sehingga pembangunan infrastruktur dasar menjadi faktor penting untuk mempercepat pemerataan pembangunan.
Jalan yang memadai tidak hanya berfungsi sebagai penghubung antardesa, tetapi juga berperan dalam membuka akses masyarakat terhadap pendidikan, layanan kesehatan, dan aktivitas ekonomi.
Kondisi infrastruktur tersebut juga beriringan dengan tantangan di sektor pendidikan. Tingkat partisipasi sekolah jenjang SMP tercatat sebesar 88,54 persen, sedangkan partisipasi SMA turun menjadi 52,59 persen.
Dari sisi ketersediaan fasilitas pendidikan, sebanyak 81,25 persen desa telah memiliki sekolah dasar (SD), namun hanya 11,61 persen desa yang memiliki sekolah menengah pertama (SMP).
Keterbatasan fasilitas pendidikan berdampak pada akses masyarakat. Data menunjukkan hanya 40,18 persen desa yang memiliki kemudahan menjangkau SMP, sehingga sebagian pelajar masih harus menempuh perjalanan cukup jauh untuk melanjutkan pendidikan.
Di sektor kesehatan, tantangan serupa juga masih terlihat. Hanya 11,82 persen desa yang memiliki dokter, sementara 41,07 persen desa telah memiliki fasilitas kesehatan.
Meski demikian, sekitar 66,07 persen desa tercatat memiliki akses yang relatif mudah menuju fasilitas kesehatan.
Upaya peningkatan kualitas kesehatan masyarakat juga masih perlu diperkuat. Cakupan balita yang memperoleh imunisasi lengkap baru mencapai 48,91 persen, sedangkan persalinan yang ditolong tenaga kesehatan pada perempuan usia 15–49 tahun dalam dua tahun terakhir tercatat sebesar 75 persen.
Pemanfaatan teknologi informasi di Boven Digoel juga masih terbatas. Penduduk yang menggunakan internet baru mencapai 24,27 persen, meski kepemilikan telepon rumah tangga sudah mencapai 83,13 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan masih adanya kesenjangan dalam pemanfaatan layanan digital, terutama untuk mendukung pendidikan, pelayanan publik, dan aktivitas ekonomi.
Di sisi lain, akses terhadap layanan dasar terus menunjukkan perkembangan. Sebanyak 90 persen rumah tangga telah menggunakan listrik, sementara 60,46 persen rumah tangga telah menikmati akses air bersih.
Pengeluaran rumah tangga untuk kebutuhan non-makanan mencapai 60,57 persen, sedangkan penduduk yang bekerja di sektor non-pertanian sebesar 55,14 persen, menandakan mulai berkembangnya aktivitas ekonomi di luar sektor primer.
Meski masih menghadapi berbagai tantangan pembangunan, Boven Digoel mencatat kondisi sosial yang relatif kondusif. Seluruh desa atau 100 persen tercatat tidak mengalami bencana, sedangkan 99,11 persen desa tidak mengalami konflik sosial.
Berbagai indikator tersebut menunjukkan bahwa percepatan pembangunan infrastruktur, khususnya peningkatan kualitas jalan desa, masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu mendapat perhatian.
Dengan konektivitas yang semakin baik, akses masyarakat terhadap pendidikan, kesehatan, serta peluang ekonomi diharapkan dapat meningkat sehingga mampu mempercepat pengurangan ketertinggalan di Kabupaten Boven Digoel.















