Manfaat Belajar Bahasa Isyarat Sejak Dini. (Foto: Dok. istockphoto.com)

Beranda / Kesehatan / Manfaat Belajar Bahasa Isyarat Sejak Dini

Manfaat Belajar Bahasa Isyarat Sejak Dini

PravadaNews – Peringatan International Week of Deaf People 2026 yang berlangsung pada 21–27 September kembali menyoroti pentingnya pemenuhan hak komunikasi bagi komunitas Tuli.

Momentum tersebut mengingatkan bahasa isyarat tidak hanya berperan sebagai alat komunikasi bagi penyandang Tuli, tapi juga dapat dikenalkan kepada anak sejak dini untuk memahami keberagaman cara berinteraksi.

Halodoc menjelaskan, pembelajaran bahasa isyarat sejak usia dini dapat memberikan manfaat bagi perkembangan komunikasi anak. 

Selain itu, bahasa isyarat juga dapat menjadi bentuk pengenalan bahasa baru yang membantu anak memahami simbol dan gerakan.

“Bahasa isyarat ini bisa memberikan beberapa manfaat pada Si Kecil. Para ilmuwan percaya kalau otak usia dini lebih memiliki ruang yang lebih luas, sehingga mudah untuk menyerap apapun, termasuk mempelajari bahasa,” tulis Halodoc dalam laman resminya, Minggu (27/9/2026). 

Adapun pembelajaran bahasa isyarat juga dapat berkaitan dengan kemampuan membaca anak ketika mulai memasuki lingkungan pendidikan. Proses mempelajari bahasa baru dinilai dapat memberikan pengalaman tambahan dalam perkembangan kemampuan otak anak.

Kemampuan memahami bahasa isyarat juga dapat membantu anak membangun interaksi dengan lingkungan yang lebih luas. Diketahui, penguasaan bahasa isyarat dapat membuka kesempatan untuk berkomunikasi dengan penyandang Tuli serta memahami pengalaman sosial yang berbeda.

Di sisi lain, Komnas Perempuan menempatkan bahasa isyarat sebagai bagian dari hak dasar komunitas Tuli untuk berkomunikasi, menyampaikan gagasan, dan membangun identitas dan budaya.

Pengakuan ini juga sejalan dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2011 tentang Pengesahan Konvensi Mengenai Hak-Hak Penyandang Disabilitas (Convention on the Rights of Persons with Disabilities/CRPD), yang menegaskan pentingnya pemenuhan hak penyandang disabilitas termasuk akses terhadap komunikasi dan informasi.

Dalam sektor pendidikan, Komnas Perempuan menilai sistem pembelajaran perlu mampu merespons keberagaman komunikasi anak Tuli. Kajian BRIN bersama Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) serta Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 2026 menunjukkan sebagian besar responden Tuli menggunakan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO). 

Karenanya, pengenalan bahasa isyarat sejak anak menjadi salah satu langkah untuk membangun lingkungan yang lebih mudah diakses berbagai kelompok. 

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *