PravadaNews – Presiden Ke-5 Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri mengingatkan bahwa Pancasila kini cenderung hanya dihafalkan, bukan dihayati dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dalam talkshow Pelayanan Kategorial Persekutuan Kaum Lanjut Usia (Pelkat PKLU) di GPIB Paulus, Menteng, Jakarta Pusat, Megawati menyampaikan kekhawatirannya terhadap memudarnya pemahaman substansial terhadap dasar negara.
“Lima sila mulai dilupakan hanya dihafalkan. Ini yang saya khawatir,” kata Megawati, dikutip Rabu (22/4/2026).
Baca juga : Muzani soal Pembangunan IKN: Membanggakan
Megawati yang juga menjabat Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menekankan pentingnya internalisasi nilai Pancasila sejak dini, terutama kepada generasi muda agar tidak berhenti pada tataran simbolik.
Megawati juga menyinggung konsep Trisakti yang digagas Presiden pertama RI Soekarno, yakni berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan, sebagai kerangka yang masih relevan menghadapi tantangan masa kini.
Dalam paparannya, Megawati turut mengingatkan pentingnya etika dalam menyampaikan pendapat di ruang publik di tengah maraknya praktik perundungan di media sosial.
Megawati juga mengaitkan isu kebangsaan dengan pengalaman konflik sosial pascareformasi 1998, seperti di Ambon, Poso, dan Sampit, yang menurutnya harus menjadi pelajaran agar tidak terulang kembali.
“Mudah-mudahan tidak terjadi lagi,” ujar Megawati.
Megawati menyoroti pula peran kearifan lokal seperti Pela Gandong di Maluku sebagai mekanisme penyelesaian konflik berbasis budaya.
Di tingkat global, Megawati menyinggung pertemuannya dengan pemimpin Vatikan Paus Fransiskus yang membahas isu pemanasan global dan dampaknya terhadap kemanusiaan. Ia menilai krisis lingkungan harus menjadi perhatian serius dunia.
Dalam kesempatan itu, Megawati juga menyinggung situasi global pascaserangan terhadap Iran serta dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari, termasuk kenaikan harga kebutuhan pokok.
Megawati menegaskan nasionalisme tetap relevan di tengah dunia yang semakin tanpa batas.
“Nasionalisme tidak bisa hilang,” kata dia, seraya mengingatkan warga Indonesia di luar negeri agar tetap menjaga budaya dan etika ketimuran. “Seperti burung kembali ke sarang. Sarangmu Indonesia, jangan lupa,” ujar Megawati.
Megawati juga menyinggung perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang menurutnya perlu dicermati secara kritis dalam konteks masa depan bangsa.















