PravadaNews – Temuan ratusan senjata, narkotika, hingga keping CD bermuatan pornografi di sebuah sekolah swasta di kawasan Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, membuka persoalan serius mengenai keamanan dan perlindungan anak di lingkungan pendidikan.
Sekolah yang semestinya menjadi ruang aman bagi peserta didik untuk belajar, tumbuh, dan membangun masa depan justru dihadapkan pada temuan benda-benda berbahaya dan terlarang yang berpotensi mengancam keselamatan serta perkembangan anak.
Kondisi tersebut mendapat perhatian dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi. Ia menyatakan keprihatinannya atas temuan tersebut dan meminta aparat kepolisian tidak berhenti pada penyitaan barang bukti, tetapi mengusut secara menyeluruh asal-usul serta pihak-pihak yang bertanggung jawab atas keberadaan senjata, narkotika, dan materi pornografi di lingkungan sekolah tersebut.
Bagi Arifah, pengungkapan kasus itu menjadi penting bukan hanya untuk memastikan proses hukum berjalan, tetapi juga untuk menjamin lingkungan pendidikan tetap menjadi tempat yang aman bagi anak. Terlebih, keberadaan narkotika dan materi bermuatan pornografi di sekitar lingkungan sekolah dapat membawa dampak serius terhadap perlindungan dan tumbuh kembang peserta didik.
Karena itu, Arifah mendorong kepolisian mengusut tuntas temuan tersebut, termasuk menelusuri bagaimana benda-benda tersebut bisa berada di lingkungan sekolah dan apakah terdapat pihak lain yang terlibat.
Penanganan secara menyeluruh dinilai diperlukan agar kasus serupa tidak kembali terjadi dan keamanan anak di lingkungan pendidikan dapat benar-benar terjamin.
“Kami prihatin atas temuan ini. Kami ingin sekolah dapat memastikan anak-anak tetap merasa aman belajar dan tidak terdampak, baik secara langsung maupun psikologis atas kasus yang terjadi di sekolah mereka,” kata Arifah dalam keterangannya, dikutip Senin (10/8/2026).
Arifah menegaskan para siswa di sekolah itu tidak boleh menjadi korban atas temuan senjata itu. Dia berharap pihak sekolah dapat memastikan kondisi siswa tetap bisa belajar dengan baik dan aman.
“Anak tidak boleh menjadi korban dari persoalan yang bukan tanggung jawab mereka. Mari kita jaga privasi dan kondisi psikologis anak agar mereka masih bisa belajar dengan nyaman,” jelasnya.
Arifah juga mendorong pihak sekolah melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap ruangan dan fasilitas serta memperkuat pengawasan untuk memastikan lingkungan pendidikan aman. Arifah meminta semua pihak menghormati proses penyelidikan kepolisian.
“Kami menghormati proses penyelidikan yang sedang berjalan dan menyerahkan pendalaman kasus ini kepada kepolisian. Kami tidak akan mendahului proses hukum. Namun, kepentingan terbaik bagi anak tetap menjadi prioritas,” ungkap Menteri PPPA.
Arifah meminta kepolisian mengusut tuntas temuan itu. Arifah akan berkoordinasi dengan kepolisian, Dinas Pendidikan, dan Dinas PPPA DKI Jakarta untuk memantau penanganan kasus serta memastikan aspek perlindungan anak tetap diperhatikan.
“Kami mengapresiasi langkah pihak yayasan yang segera melaporkan temuan ini kepada kepolisian. Kami juga mengapresiasi respons kepolisian dalam menindaklanjuti laporan tersebut. Kami berharap proses penyelidikan berjalan transparan dan akuntabel hingga tuntas,” tuturnya.
Sementara itu, Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak) DKI Jakarta juga menyoroti temuan temuan ratusan senjata, narkotika, dan CD porno di sekolah swasta di Pondok Pinang.
Ketua Umum Komnas Anak DKI Jakarta, Cornelia Agatha menegaskan sekolah harus menjadi tempat yang ramah anak.
“Sekolah itu kan harusnya tempat yang aman ya. Kita kan lagi terus-terus mau mensosialisasikan sekolah yang ramah anak. Nah, jadi ketika ditemukan barang-barang seperti itu kan rasanya gimana ya. Ini tidak pantas ya ditemukan di sebuah tempat yang harusnya menjadi tempat yang sangat aman untuk anak-anak,” ujar Cornelia.
Cornelia meminta polisi mengusut tuntas kejadian ini. Dia juga menyoroti kondisi psikis siswa yang bisa terpengaruh adanya temuan tersebut.
“Iya, tentunya diusut dan tentunya juga kita harus concern juga sama anak-anak yang di sana setelah kejadian ini mereka gimana. Apa kondisi psikisnya ya kan, apakah masih bisa belajar dengan tenang atau bagaimana gitu,” katanya.
Cornelia mengatakan, pihaknya akan mengunjungi sekolah tersebut. Komnas Anak akan mengecek keadaan para siswa usai adanya temuan tersebut.
“Iya, kita memang mau ke sana ya, mau melihat anak-anak,” imbuhnya.
Wakil Ketua Komnas Anak Lia Latifah juga mengatakan sekolah agar jangan sampai disalahgunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Dia menegaskan sekolah perlu menjadi tempat yang aman bagi anak-anak
“Jangan sampai tempat yang harusnya menjadi tempat anak-anak berlindung, mendapatkan pendidikan, justru sekarang banyak disalahgunakan oleh tangan-tangan ataupun orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Inilah yang harusnya menjadi bagian kita semuanya agar tidak terjadi lagi di dunia pendidikan, khususnya di Indonesia, tempat-tempat yang tidak aman untuk anak-anak kita,” kata Lia.















