Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja saat ditemui di Transtudio Mal Cibubur.  (Foto: Dok. Nur Aida/PravadaNews)

Beranda / Ekonomi / Pemadaman Listrik Bikin Biaya Mal Naik 200%

Pemadaman Listrik Bikin Biaya Mal Naik 200%

PravadaNews – Pemadaman listrik di sejumlah wilayah Indonesia turut menekan pusat perbelanjaan, karena biaya operasional dapat melonjak hingga 200% saat pasokan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN terganggu.

Sebelumnya, gangguan listrik terjadi di sejumlah wilayah Jawa Barat hingga Jawa Tengah sejak Rabu, (10/6/2026). Pemadaman itu dilaporkan terjadi di beberapa daerah, termasuk Bandung, Cimahi, Karawang, Sumedang, dan Depok.

Bagi pusat perbelanjaan, pemadaman listrik berimbas pada kegiatan operasional utama seperti aktivitas tenant, transaksi, lift, dan eskalator. Apalagi, sistem keamanan tetap harus berjalan.

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja menegaskan, pengelola mal tidak bisa langsung menghentikan layanan ketika listrik padam.

“Gangguan listrik berarti pusat perbelanjaan tetap harus melayani masyarakat dan harus tetap buka. Artinya, pusat perbelanjaan harus menggunakan genset,” jelas Alphonzus saat ditemui di Trans Studio Mall Cibubur, Kamis (9/7/2026).

Baca Juga: Purbaya Kaji Ulang Pajak JHT Nol Persen

Menurutnya, pemakaian generator set atau genset langsung menambah beban operasional karena pusat perbelanjaan menggunakan solar nonsubsidi. Semakin lama listrik padam, semakin besar biaya bahan bakar yang harus dikeluarkan pengelola.

“Biaya penggunaan genset untuk pasokan listrik bisa mencapai 200 persen dibandingkan dengan biaya listrik PLN. Apalagi, harga solar juga naik cukup besar,” lanjut Alphonzus.

Beban tersebut muncul di luar biaya listrik reguler yang selama ini ditanggung pusat perbelanjaan. Karena itu, gangguan pasokan listrik dapat langsung mengubah struktur biaya operasional mal dalam satu hari operasional.

Alphonzus menilai, pemadaman listrik perlu ditekan karena pusat perbelanjaan termasuk ruang kegiatan ekonomi masyarakat. Tanpa pasokan listrik yang andal, pengelola tetap membuka layanan dengan biaya energi yang jauh lebih mahal.

Sementara itu, PT Pertamina Patra Niaga menyesuaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi mulai 1 Juli 2026. Penyesuaian ini mencakup Dex Series, termasuk Dexlite dan Pertamina Dex, yang menjadi rujukan solar nonsubsidi.

Untuk wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Barat, harga Dexlite per Juli 2026 berada di Rp19.700 per liter. Adapun Pertamina Dex di wilayah yang sama dipatok Rp21.150 per liter.

Vice President Corporate Communication Pertamina Patra Niaga Kitty Andhora menjelaskan, penyesuaian harga BBM nonsubsidi dilakukan melalui evaluasi berkala.

“Sesuai yang kita ketahui penyesuaian harga BBM nonsubsidi mengacu pada dinamika harga pasar minyak dunia dan mengikuti regulasi atau mekanisme yang berlaku. Tentunya langkah penyesuaian ini telah dikoordinasikan dengan pemerintah,” kata Kitty dalam keterangan resmi yang diterima, Kamis (2/7).

Dengan harga solar nonsubsidi itu, pemadaman listrik membuat pusat perbelanjaan menanggung biaya tambahan yang tidak muncul ketika pasokan PLN berjalan normal. Keandalan listrik akhirnya menjadi faktor penting untuk menjaga biaya operasional mal tetap terkendali.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *