Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman saat menghadiri rapat kabinet. (Dok. Kementerian Pertanian).

Beranda / Ekonomi / Pemerintah Ingin Bangun Klaster Produksi Bawang Putih

Pemerintah Ingin Bangun Klaster Produksi Bawang Putih

PravadaNews – Pemerintah berencana membangun klaster produksi bawang putih di dalam negeri. Rencana ini muncul dengan tujuan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor sekaligus mengejar target swasembada bawang putih dalam tiga tahun.

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman mengatakan, dalam rencana tersebut nantinya pemerintah akan bekerja sama dengan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) untuk mengembangkan produksi bawang putih dari hulu hingga hilir.

“Kita ingin kerja sama hulu sampai hilir untuk bawang putih, mulai dari benih, teknologi, alat dan mesin pertanian, hingga membangun klaster di Indonesia,” ujar Amran dalam keterangannya, Rabu (4/11/2026).

Kerja sama tersebut, kata Amran, dilakukan untuk memperkuat kemampuan produksi dalam negeri. Terlebih, sekitar 90 persen kebutuhan bawang putih Indonesia saat ini masih dipenuhi dari Tiongkok.

Oleh karena itu, pemerintah ingin mengembangkan kemitraan yang tidak hanya berorientasi pada perdagangan, tetapi juga mendukung peningkatan produksi bawang putih di Indonesia.

Adapun bawang putih sendiri diketahui saat ini belum mencapai target swasembada yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto dalam tiga tahun pertama di masa kepimpinannya. Hal itu terjadi karena masih menghadapi sejumlah kendala, terutama dari sisi produksi dalam negeri.

Research Associate Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Dwi Andreas Santosa, menilai target tersebut sulit dicapai apabila persoalan produksi yang telah berlangsung sejak program swasembada dimulai pada 2017 belum diselesaikan.

“Kalau menurut saya, untuk bawang putih sangat sulit, ya. Karena sebenarnya program swasembada bawang putih itu kan sudah lama,” kata Andreas dalam diskusi CORE Indonesia, Sabtu (15/8/2026).

Menurut Andreas, ketergantungan terhadap impor justru meningkat meski pemerintah telah menjalankan program swasembada sejak 2017. Impor bawang putih yang tercatat sekitar 450.000 ton pada 2014 meningkat menjadi sekitar 660.000 ton pada 2021.

Selain ketergantungan impor, produksi bawang putih domestik menghadapi persoalan tingginya biaya produksi. Saat program swasembada berjalan, ongkos produksi bawang putih lokal mencapai sekitar Rp 21.000 per kilogram, sedangkan harga produk impor ketika tiba di pelabuhan hanya sekitar Rp 8.000 per kilogram.

Keterbatasan lahan juga menjadi tantangan karena bawang putih membutuhkan wilayah tanam dengan ketinggian di atas 800 meter. Lahan di kawasan tersebut harus bersaing dengan komoditas hortikultura lain yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Andreas juga menyoroti rendahnya produktivitas bawang putih nasional dibandingkan negara produsen utama.

“Produktivitas bawang putih kita itu hanya sepertiga produktivitas bawang putih di China,” ucap Andreas.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *