Pravadanews – Ketersediaan fasilitas penyimpanan menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas dan pasokan pangan setelah panen. Selain menekan risiko penurunan mutu, gudang yang dilengkapi fasilitas pengeringan dapat membantu petani mempertahankan kualitas hasil panen, agar memenuhi standar penyerapan.
Untuk menjalaninya, pemerintah kemudian menyiapkan anggaran sebesar Rp 5 triliun dengan target pembangunan 100 unit gudang komoditas pangan, termasuk padi dan jagung.
“Ini anggarannya Rp 5 triliun, padi dan jagung. Kita bangun 100 gudang seluruh Indonesia, padi dan jagung. Kalau jagung kan ya paling 10 atau 5 sudah cukup. Oke. Jadi betul-betul ini adalah ekosistem yang kita bangun,” ujar Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman di Jakarta, Jumat (9/10/2026).
Adapun fasilitas yang disiapkan tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan. Nantinya akan dilengkapi sarana pengeringan untuk menjaga kualitas komoditas yang disimpan, seperti padi dan jagung.
“Sudah disiapkan. Kita bangun gudang sekarang. Malah lengkap dengan dryer,” kata Amran.
Adapun dalam menjaga kualitas hasil panen, pihak Bulog menetapkan kadar air maksimal 14 persen dan kandungan aflatoksin maksimal 55 bagian per miliar atau parts per billion (ppb) sebagai persyaratan penyerapan jagung.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani menjelaskan, jagung yang tidak memenuhi ketentuan tersebut berpotensi tidak dapat diserap sesuai standar Bulog.
Maka dari itu, dengan adanya fasilitas pengering diharapkan membantu petani mengolah hasil panen agar memenuhi persyaratan kualitas. Dengan demikian, peluang jagung lokal untuk diserap dapat meningkat dan pasokan bahan baku pakan bagi peternak ayam dapat lebih terjaga.
Selain pembangunan gudang, pemerintah juga mendorong peningkatan produksi jagung melalui pemberian benih gratis untuk lahan seluas 20.000 hektare hingga Desember 2026.
Dalam skema yang disiapkan, peternak ayam dan koperasi akan bekerja sama dengan petani untuk menanam jagung. Hasil panen dapat dibeli oleh peternak yang terlibat dalam kemitraan, sedangkan kelebihan produksi akan diserap Bulog sebagai offtaker.
Sementara itu, Bulog terus menggerakkan distribusi jagung dari sejumlah daerah sentra produksi, antara lain Gorontalo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Sulawesi Selatan. Pasokan tersebut disalurkan untuk mendukung kebutuhan peternak ayam di berbagai wilayah.















