Pravadanews – Sebanyak 2,6 juta ton beras telah disalurkan pemerintah dalam program pangan sepanjang 2026.
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman mengatakan, jumlah tersebut menjadi alokasi terbesar sejak program bantuan pangan beras diluncurkan pada 2023.
Adapun total alokasi tersebut terbagi dalam tiga periode penyaluran. Sekitar 664.000 ton beras dialokasikan untuk periode Februari-Maret, 997.000 ton pada Juli-September, serta sekitar 997.000 ton untuk periode Oktober-Desember 2026.
“Atas arahan Bapak Presiden, membagi bantuan ke seluruh tanah air, seluruh Indonesia. Totalnya kita bagikan tahap pertama, 33,24 juta orang,” ujar Amran dalam keterangan yang dikutip Sabtu (19/9/2026)
Sementara itu, untuk kloter periode Oktober-Desember 2026, pihaknya telah mengalokasikan bantuan beras kepada 33,24 juta Penerima Bantuan Pangan (PBP). Nantinya, setiap penerima akan mendapatkan beras sebanyak 10 kilogram (kg) per bulan.
Besaran alokasi bantuan pangan pada tahun ini, kata Amran, berasal dari produksi petani dalam negeri.
“Dulu beras ini dari negara lain, impor dulu. Beras kita aman, banyak. Nah, ini dulu berasnya dari Pakistan, India, Thailand. Hari ini, satu tahun saja dibawa ke pemimpin Bapak Presiden, swasembada beras ini dari petani Indonesia dan untuk rakyat Indonesia,” kata Amran.
Di sisi lain, Amran menyebut stok beras yang tersimpan di Perum Bulog saat ini masih mencapai sekitar 4,6 juta ton. Jumlah tersebut dinilai cukup kuat untuk menopang berbagai program pemerintah, termasuk bantuan pangan serta stabilisasi pasokan dan harga beras.
Dengan kondisi itu, pemerintah berharap penyaluran bantuan pangan dapat menjaga kebutuhan pokok sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan produksi beras dalam negeri. Pihaknya juga memastikan penyaluran bantuan berjalan sesuai ketentuan dan diterima warga yang menjadi sasaran program.














