Ilustrasi seseorang terkena infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). (Foto: AI)

Beranda / Kesehatan / ISPA di Lampung Selatan Melonjak Usai Erupsi Anak Krakatau

ISPA di Lampung Selatan Melonjak Usai Erupsi Anak Krakatau

PravadaNews – Udara yang biasanya menjadi bagian tak kasatmata dari keseharian warga Lampung Selatan kini terasa berbeda.

Pascaerupsi Gunung Anak Krakatau, aktivitas masyarakat di sejumlah wilayah diwarnai kekhawatiran terhadap dampak abu vulkanik yang berpotensi mengganggu kesehatan, terutama saluran pernapasan.

Di tengah situasi tersebut, fasilitas pelayanan kesehatan mulai menghadapi peningkatan jumlah warga yang datang dengan keluhan batuk, pilek, sesak napas, hingga iritasi pada tenggorokan.

Dinas Kesehatan Lampung Selatan mencatat lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang cukup tajam dalam dua hari terakhir.

Dari yang biasanya hanya berkisar 25 kasus, jumlah penderita yang tercatat melonjak menjadi 337 kasus.

Angka tersebut menjadi sinyal kuat bahwa erupsi Gunung Anak Krakatau bukan hanya menyisakan ancaman dari aktivitas vulkaniknya, tetapi juga membawa persoalan kesehatan yang langsung dirasakan masyarakat di sekitar wilayah terdampak.

Di tengah kepulan material vulkanik dan perubahan kondisi udara, warga kini harus menghadapi ancaman lain yang tak kalah mengkhawatirkan, gangguan pernapasan yang dapat menyerang siapa saja, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan mereka yang memiliki penyakit pernapasan sebelumnya.

Kepala Dinas Kesehatan Lampung Selatan Devi Arminanto mengatakan, sebaran abu vulkanik mulai berkurang signifikan.

Hujan abu juga disebut sudah tidak terjadi, meski sisa debu masih menempel di pepohonan dan atap bangunan.

“Intensitas sebaran debu vulkanik Gunung Anak Krakatau kini mulai berkurang. Bahkan bisa dikatakan sudah tidak ada lagi hujan abu,” ujar Devi, Selasa (8/9/2026).

Menurut Devi, debu yang tersisa merupakan endapan dari erupsi sebelumnya. Debu tersebut masih berpotensi beterbangan kembali ketika tertiup angin.

Selain ISPA, Dinkes Lampung Selatan mencatat 20 kasus gangguan mata dan 16 kasus iritasi kulit.

Keluhan kesehatan paling banyak ditemukan di Kecamatan Rajabasa yang menjadi salah satu wilayah terdampak parah.

Devi memastikan seluruh kasus masih tergolong ringan dan dapat ditangani melalui rawat jalan di puskesmas.

Hingga kini belum terdapat pasien yang harus dirujuk ke rumah sakit.

“Seluruh kasus bersifat ringan dan ditangani lewat rawat jalan di puskesmas. Belum ada pasien yang harus dirujuk ke rumah sakit,” kata Devi.

Pemkab Lampung Selatan juga menyiapkan posko penanganan bencana dan layanan kesehatan bagi masyarakat terdampak.

Posko kabupaten dipusatkan di BPBD, sedangkan Posko Utama Kesehatan berada di Desa Cantik.

Posko kesehatan tersebut disiapkan untuk mempercepat pelayanan bagi warga di wilayah pesisir yang terdampak.

Pemerintah daerah juga terus memantau perkembangan kondisi kesehatan masyarakat.

Untuk mengurangi risiko paparan abu vulkanik, Dinkes Lampung Selatan telah membagikan hampir 127 ribu masker.

Pemerintah daerah masih memiliki sekitar 705 ribu masker sebagai stok dan telah mengajukan tambahan pengadaan.

Dinkes mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila tidak mendesak.

Warga juga diminta tetap menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *