PravadaNews – Kinerja penjualan eceran nasional diprakirakan tetap berada dalam tren positif pada April 2026 meski mengalami perlambatan setelah periode Ramadan dan Idulfitri 1447 Hijriah.
“Kondisi tersebut tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) April 2026 yang diperkirakan mencapai 231,0, didorong oleh pertumbuhan penjualan tahunan di sejumlah kelompok barang, terutama suku cadang dan aksesori, perlengkapan rumah tangga lainnya, serta subkelompok sandang,” tulis Bank Indonesia (BI) dalam keterangan tertulisnya, Selasa (12/5/2026).
Meski secara tahunan masih mencatat pertumbuhan, secara bulanan penjualan eceran diprakirakan mengalami kontraksi sebesar 10,0 persen month to month (mtm).
Penurunan tersebut dipengaruhi oleh normalisasi permintaan masyarakat setelah tingginya aktivitas konsumsi selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan Idulfitri.
Aktivitas belanja masyarakat yang biasanya meningkat tajam menjelang Lebaran menyebabkan basis penjualan pada Maret 2026 berada pada level tinggi.
Setelah periode tersebut berakhir, pola konsumsi masyarakat kembali normal sehingga berdampak pada perlambatan penjualan pada April.
Sebelumnya, pada Maret 2026, Indeks Penjualan Riil tercatat sebesar 256,7. Kinerja tersebut ditopang oleh meningkatnya penjualan pada kelompok suku cadang dan aksesori, barang budaya dan rekreasi, serta makanan, minuman, dan tembakau secara tahunan.
Secara bulanan, penjualan eceran pada Maret 2026 tumbuh sebesar 10,3 persen mtm, lebih tinggi dibandingkan Februari 2026 yang tumbuh 4,1 persen mtm. Pertumbuhan tersebut menunjukkan tingginya aktivitas konsumsi masyarakat menjelang dan selama Ramadan hingga Idulfitri.
Kenaikan penjualan pada Maret terutama terjadi pada kelompok barang budaya dan rekreasi, makanan, minuman, dan tembakau, bahan bakar kendaraan bermotor, serta subkelompok sandang. Peningkatan tersebut sejalan dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat selama momentum HBKN.
BI menyampaikan, peningkatan konsumsi menjelang hari besar keagamaan merupakan fenomena rutin yang terjadi setiap tahun. Tingginya permintaan masyarakat mendorong sektor ritel mengalami pertumbuhan signifikan, terutama pada produk kebutuhan pokok, fesyen, hingga kebutuhan transportasi.
Namun demikian, kondisi tersebut juga diiringi meningkatnya tekanan harga yang diperkirakan masih akan berlanjut dalam beberapa bulan mendatang. Dari sisi harga, tekanan inflasi untuk tiga hingga enam bulan ke depan, yakni pada Juni dan September 2026, diprakirakan mengalami peningkatan.
Hal itu tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Juni 2026 yang tercatat sebesar 175,6 dan September 2026 sebesar 163,2. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan IEH Mei dan Agustus 2026 yang masing-masing berada pada level 157,4 dan 157,2.
Kenaikan ekspektasi harga tersebut terutama dipicu oleh meningkatnya harga bahan baku yang berdampak pada biaya produksi dan distribusi barang. Kondisi ini dinilai dapat memengaruhi harga jual di tingkat konsumen apabila tidak diantisipasi dengan baik.
Sektor ritel masih memiliki peluang tumbuh sepanjang 2026 seiring terjaganya daya beli masyarakat dan membaiknya aktivitas ekonomi domestik. Namun, stabilitas harga tetap menjadi faktor penting untuk menjaga konsumsi rumah tangga agar tetap kuat.
Pemerintah dan otoritas terkait diharapkan terus memantau perkembangan inflasi serta menjaga pasokan barang kebutuhan masyarakat guna mengantisipasi lonjakan harga yang berpotensi menekan konsumsi domestik. Sebab, sektor konsumsi rumah tangga masih menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Dengan tetap tumbuhnya penjualan eceran secara tahunan, sektor ritel dinilai masih menunjukkan ketahanan yang cukup baik di tengah tantangan kenaikan harga dan normalisasi konsumsi pasca-Lebaran.















