PravadaNews — Tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat turut mengubah cara peternak ayam petelur mengelola keuangan keluarga. Kiki (29), peternak telur di Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, mengaku kini lebih mengutamakan kebutuhan pokok dan menahan pengeluaran yang tidak mendesak.
Kondisi tersebut tidak terlepas dari situasi usaha peternakan ayam petelur yang semakin menantang. Di tengah kenaikan biaya produksi dan perubahan daya beli masyarakat, menjaga keberlangsungan usaha menjadi prioritas utama.
Kiki mengatakan, dirinya telah mengenal usaha peternakan ayam petelur sejak 2010. Awalnya, usaha tersebut dijalankan di dekat rumah sebelum akhirnya berpindah ke lokasi sekarang pada 2015.
Selama sekitar 16 tahun berkecimpung di bidang tersebut, Kiki telah melewati berbagai kondisi ekonomi. Kiki juga merasakan perubahan harga telur dan pakan yang menjadi tantangan utama bagi peternak.
Menurut Kiki, persoalan terbesar dalam menjalankan usaha peternakan bukan hanya menghadapi fluktuasi harga telur. Kenaikan harga pakan juga menjadi beban karena berpengaruh langsung terhadap biaya produksi.
Kiki menyebut harga pakan yang sebelumnya berada di kisaran Rp375.000 kini meningkat menjadi sekitar Rp390.000. Sementara itu, harga telur yang dijual kepada warung berada di kisaran Rp23.000-Rp24.000 per kilogram.
Situasi tersebut membuat peternak harus lebih berhati-hati dalam menjalankan usaha. Kiki mengaku saat ini fokus utamanya adalah mempertahankan peternakan agar tidak sampai mengalami kerugian yang berujung pada penutupan usaha.
“Untuk sekarang menurut saya kita lebih bertahan hidup lah sebagai peternak ya, jangan sampai ibarat kita gulung tikar,” kata Kiki saat ditemui di Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Jumat (30/10/2026).
Tekanan ekonomi juga dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Kiki mengatakan, pengelolaan keuangan keluarga masih banyak diatur oleh orang tuanya karena usaha peternakan tersebut merupakan usaha milik keluarga yang diteruskannya.
Meski begitu, Kiki memahami pentingnya membatasi pengeluaran di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil. Uang yang diperoleh dari usaha lebih diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, terutama makanan dan keperluan penting lainnya.
“Yang penting untuk sekarang kita dapat uang dipakai untuk bertahan hidup aja sih, dipakai untuk makan dan lain-lain. Apa yang kebutuhan kita yang benar-benar butuh ya sudah kita beli,” ujar Kiki.
Kiki juga menilai masyarakat perlu mengubah pola konsumsi agar tidak terbebani pengeluaran yang sebenarnya bisa ditunda. Menurut Kiki, membeli barang hanya demi gengsi bukan menjadi prioritas ketika kondisi ekonomi sedang sulit.
“Kalau yang enggak butuh-butuh banget menurut saya untuk zaman sekarang sih jangan ya. Karena di zaman krisis seperti ini sih kita lebih penting untuk mementingkan diri sendiri dan mementingkan kebutuhan diri sendiri daripada kita harus membeli apa-apa yang gengsi-gengsi segala macam,” tutur Kiki.
Pengalaman menghadapi pandemi Covid-19 menjadi salah satu pelajaran bagi Kiki dalam mempertahankan usaha. Saat itu, harga telur sempat turun hingga kisaran Rp18.000-Rp19.000 per kilogram, tetapi permintaan masyarakat masih dinilai cukup baik.
Berbeda dengan kondisi sekarang, Kiki melihat minat masyarakat membeli telur cenderung berkurang. Bahkan, harga telur yang relatif lebih murah dibandingkan beberapa periode sebelumnya masih memunculkan keluhan dari konsumen.
Karena itu, Kiki berharap pemerintah dapat melakukan penyesuaian terhadap kondisi ekonomi dan harga kebutuhan masyarakat. Kiki juga berharap harga telur serta biaya produksi dapat lebih stabil agar peternak dan konsumen sama-sama tidak terbebani.
Di tengah ketidakpastian tersebut, Kiki memilih menjalani usaha dengan prinsip sederhana, yakni mengutamakan kebutuhan dan menjaga pengeluaran. Baginya, kemampuan bertahan menjadi hal terpenting sampai kondisi ekonomi kembali normal dan stabil.














