PravadaNews – Pemerintah Indonesia sedang penjajakan untuk mencari pasar ekspor baru di kawasan Afrika dan Asia.
Sebab, kondisi di Timur Tengah saat ini sedang tidak menentu. Perang antara AS-Israel dan Iran masih berkecamuk di kawasan tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Menteri Perdagangan (Mendag), Budi Santoso (Busan) kepada wartawan di Kantor Kementerian Perdagangan (Kemendag) RI, Jakarta Pusat, Minggu (3/5/2026).
“Kita mencoba menjajaki di Afrika, kemudian di Asia untuk menggantikan pasar di Timur Tengah,” kata Menteri Busan.
Baca Juga: Penyesuaian HET Minyakita Tidak Terkait B50
Di tengah kondisi geopolitik yang tidak menentu seperti ini, kata Menteri Busan, akan banyak pasar-pasar baru bermunculan.
“Biasanya pasar-pasar baru terbuka, karena ada negara-negara tertentu pasokannya berhenti, nah kita kesempatan masuk,” kata Menteri Busan.
Berdasarkan data pada Januari-Februari 2026, ekspor Indonesia tumbuh sebesar 2,19%, jika dibandingkan periode sebelumnya.
Menteri Busan menjelaskan, neraca perdagangan Indonesia di kawasan Timur Tengah masih dalam kondisi bagus atau surplus.
“Timur Tengah itu pada Januari-Februari kita masih surplus non-migasnya 641 juta dolar AS, masih positif,” kata Menteri Busan.
Menteri Busan berharap neraca perdagangan akan tetap tumbuh pada bulan selanjutnya. “Mudah-mudahan bulan maret masih tumbuh,” pungkas Menteri Busan.















