PravadaNews – Di tengah perlambatan ekonomi global dan kenaikan suku bunga negara maju, ekonomi Indonesia masih mencatat pertumbuhan 5,45% pada semester I 2026. Kinerja ini menjadi salah satu indikator Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dalam menjaga arah kebijakan ekonomi.
Kemenkeu terus memperhatikan berbagai risiko eksternal, mulai dari konflik geopolitik hingga kebijakan moneter Amerika Serikat yang berdampak terhadap kondisi ekonomi negara berkembang.
Selain faktor global, instansi itu juga melihat perkembangan aktivitas domestik melalui konsumsi masyarakat, investasi, serta pergerakan sektor riil sebagai penopang pertumbuhan ekonomi.
“Kalau kita lihat Indonesia pada semester I tumbuh 5,45%, lalu kemarin kita mendapatkan angka inflasi sebesar 3,19%. Angka-angka tersebut cukup memberikan confidence kepada kita bahwa perekonomian Indonesia stay resilient,” ungkap Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, Selasa (22/9/2026).
Suahasil menjelaskan, ketahanan ekonomi tersebut tercermin dari aktivitas masyarakat yang masih berjalan, baik melalui transaksi ekonomi, konsumsi, maupun investasi di tengah kondisi global yang penuh tekanan.
“Perekonomian Indonesia tetap resilient, baik gerak ekonominya, aktivitas di masyarakat, maupun transaksi yang ada di masyarakat, meliputi gerak investasi, gerak konsumsi, dan seterusnya,” jelas Suahasil.
Dari sisi sektor riil, Kemenkeu mencatat sejumlah indikator masih menunjukkan perkembangan positif, seperti penjualan mobil dan motor, penjualan semen, serta konsumsi listrik yang tetap tumbuh, meskipun perkembangan manufaktur global masih menjadi perhatian.
Di samping menjaga pertumbuhan ekonomi, pemerintah juga memastikan kondisi fiskal tetap mendukung aktivitas ekonomi melalui pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang berjalan sesuai jalur.
Diketahui, realisasi APBN hingga akhir Agustus 2026 mencatat pendapatan negara sebesar Rp2.055,6 triliun atau 65% dari target, sedangkan belanja negara mencapai Rp2.295 triliun dengan defisit Rp240,1 triliun atau 0,93% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Kondisi tersebut membuat keseimbangan primer APBN tetap berada di posisi positif sebesar Rp154 triliun, sementara pemerintah tetap menjaga kehati-hatian menghadapi dinamika harga komoditas dan pasar global.
Sebelumnya, Menteri Keuangan periode 2025-2026, Purbaya Yudhi Sadewa, menyampaikan dorongan agar pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat bergerak menuju level 8% secara bertahap.
“Makanya ketika Pak Presiden Prabowo bilang 8%, saya setuju 8% secepatnya. Tentunya kita capai secara bertahap,” ujar Purbaya dalam acara Sarasehan 100 Ekonom Indonesia, Kamis (3/9).















