PravadaNews – Sebanyak 273,6 ton hasil perikanan dari 65 Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) telah dipasarkan dengan nilai transaksi Rp11,10 miliar hingga 14 Agustus 2026.
Capaian tersebut menjadi uji awal pemerintah dalam membangun rantai bisnis nelayan melalui penguatan produksi, penyimpanan, dan distribusi hasil laut.
Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan, Didit Herdiawan Ashaf, mengungkapkan program KNMP menjadi bagian dari upaya transformasi kesejahteraan masyarakat di sektor kelautan dan perikanan.
Dalam penjelasannya, Didit menekankan pembangunan kampung nelayan tidak hanya berfokus pada fisik, tapi juga integrasi program yang mendukung masyarakat sekitar.
“Salah satunya di Sambi Meri. Sambi Meri ini sudah dilakukan meningkatkan pendapatan mereka, terus tentang produktivitas mereka,” ujar Didit saat ditemui di BRIN, Jakarta, Senin (14/9/2026).
Adapun pengalaman ini menjadi salah satu contoh ketika hasil perikanan masyarakat mulai berkembang dari pasar lokal menuju wilayah distribusi yang lebih luas.
“Dan hari ini yang tadinya lokal, kemarin tahun 2023 itu lokal, sekarang sudah dibawa bisa ke Semarang, Surabaya, terus ke Jakarta dan sampai begitu serta langsung menuju ke ekspor,” lanjut Didit.
Selain itu, Didit menyebut pola pengembangan tersebut akan diterapkan melalui pendekatan Amati, Tiru, Modifikasi sesuai potensi daerah masing-masing.
Didit juga menekankan pentingnya kolaborasi antarinstansi karena pengembangan kampung nelayan membutuhkan integrasi antara pembangunan fisik dan kegiatan ekonomi masyarakat.
Berdasarkan keterangan KKP, hasil pemasaran tersebut berasal dari berbagai wilayah KNMP tahap I seperti Lampung, Sumbawa, Pandeglang, Sinjai, Lombok Tengah, Gorontalo, Tual, Konawe, hingga Merauke.
Ketua Satgas Operasional KNMP, Victor Gustaaf Manoppo, mengatakan fokus pemerintah saat ini adalah memastikan fasilitas yang tersedia dapat digunakan sebagai penggerak usaha nelayan.
“Fokus kami sekarang memastikan semua fasilitas KNMP tahap I digunakan, unit usaha dijalankan, dan koperasi siap mengelolanya,” ujar Victor dalam keterangan resminya, Minggu (23/8).
Fasilitas yang mulai dimanfaatkan dalam kawasan itu mencakup cold storage, kapal penangkap ikan, kendaraan berpendingin, sentra kuliner, kios perbekalan, bengkel, hingga pabrik es untuk mendukung rantai pasok hasil laut.















