PravadaNews – Kepala Badan Pengaturan (BP) BUMN Dony Oskaria menegaskan bahwa keberhasilan transformasi badan usaha milik negara (BUMN) sangat ditentukan oleh kualitas kepemimpinan seorang chief executive officer (CEO).
Dony menyebut, pemimpin perusahaan tidak cukup hanya memahami kondisi saat ini, tetapi juga harus mampu merancang arah masa depan.
“Seorang CEO dia harus tahu current situation daripada company-nya dan dia men-design future outlook daripada perusahaannya,” ujar Dony dalam keterangannya, dikutip Selasa (5/5/2026).
Baca juga : Insentif Kendaraan Listrik Dikebut
Pernyataan itu disampaikan dalam agenda Danantara CEO Program angkatan I. Dony, yang juga menjabat Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, menekankan pentingnya visi yang tidak hanya disusun, tetapi juga dikomunikasikan agar dipahami seluruh organisasi.
Menurut Dony, transformasi perusahaan tidak bisa berjalan hanya dengan satu pendekatan. Perubahan, kata Dony, membutuhkan kombinasi arahan dari atas serta penerimaan dari seluruh lapisan organisasi.
“Perubahan hanya dapat dilakukan dengan dua cara. Nomor satu adalah top down approach. Tetapi at the same time perubahan itu harus dikomunikasikan untuk melakukan buy-in proses,” ujar Dony.
Dony menambahkan, transformasi tidak boleh berhenti sebagai kebijakan di tingkat pimpinan, melainkan harus menjadi gerakan kolektif di dalam perusahaan.
Dony juga menyoroti peran langsung pemimpin dalam eksekusi perubahan. Dony menilai, risiko kegagalan transformasi meningkat jika pemimpin tidak terlibat secara aktif.
“70 persen daripada transformasi itu gagal. Kenapa? Kuncinya pemimpin. Kalau dia tidak mampu memimpin sendiri eksekusi, transformasi akan ‘fail’,” kata Dony.
Adapun BP BUMN dan Danantara Indonesia saat ini mendorong penguatan kapasitas kepemimpinan di lingkungan BUMN agar proses transformasi berjalan dengan arah yang jelas, komunikasi yang efektif, dan eksekusi yang konsisten.















