PravadaNews – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penurunan harga emas perhiasan kembali berlanjut pada April 2026 dan menjadi salah satu faktor utama yang menahan laju inflasi bulanan.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan komoditas emas mengalami deflasi sebesar 3,76 persen secara bulanan (month-to-month/mtm), lebih dalam dibandingkan penurunan pada Maret 2026 yang sebesar 1,17 persen.
“Emas perhiasan pada Maret dan April mengalami penurunan pada harga internasionalnya,” ujar Ateng di Jakarta, dikutip Selasa (5/5/2026).
Baca juga : Gaji Manajer Kopdes Pakai Dana Sisa Anggaran Program
Berdasarkan data World Bank Commodity Price, harga emas dunia terus menurun dalam tiga bulan terakhir, dari 5.019,97 dolar AS per troy ounce pada Februari 2026 menjadi 4.881,13 dolar AS pada Maret, lalu turun lagi ke 4.719,28 dolar AS pada April 2026.
Ateng menjelaskan, tren penurunan ini menjadi pembalikan setelah periode panjang kenaikan harga.
“Sebelumnya, emas perhiasan mengalami inflasi selama 30 bulan berturut-turut,” kata Ateng.
Secara kontribusi, kata Ateng, emas perhiasan tercatat sebagai penyumbang deflasi terbesar dalam kelompok pengeluaran perawatan pribadi dan jasa lainnya, dengan andil deflasi sebesar 0,09 persen.
“Penurunan ini mendorong kelompok tersebut mengalami deflasi 0,99 persen mtm, sekaligus menjadi yang terdalam sejak Januari 2020,” tutur Ateng.
Menurut Ateng, kondisi ini membuat kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi salah satu penahan inflasi April, selain kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
“Kelompok ini juga meredam inflasi pada bulan April tahun 2026,” ujar Ateng
Secara keseluruhan, BPS mencatat inflasi bulanan pada April 2026 sebesar 0,13 persen mtm. Sementara itu, inflasi tahunan (year-on-year/yoy) tercatat 2,42 persen dan inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) sebesar 1,06 persen.















