PravadaNews – Tempe Indonesia mulai menarik pasar Amerika Serikat seiring meningkatnya permintaan pangan nabati dan produk fermentasi. Peluang tersebut tetap bergantung pada pasokan, mutu, dan pemasaran yang konsisten.
AS menjadi pasar ekspor pangan terbesar kedua bagi Indonesia setelah Tiongkok. Nilainya mencapai USD5,97 miliar pada 2025 atau 10,1% dari total ekspor pangan nasional.
Atase Perdagangan RI Washington D.C., Ranitya Kusumadewi menyebut, minat pembeli terhadap tempe cukup tinggi.
“Selain potensi transaksi, kami melihat minat buyer terhadap tempe sangat tinggi seiring berkembangnya tren pangan nabati di Amerika Serikat,” ujar Ranitya dalam keterangan resmi yang diterima, Jumat (31/7/2026).
Permintaan, jelasnya, ditopang tren makanan nabati, produk fermentasi, dan gaya hidup sehat. Tempe pun dinilai berpeluang menjadi produk unggulan Indonesia di pasar AS.
Namun, minat pembeli belum otomatis menjadi kontrak ekspor. Produsen harus menjaga kapasitas produksi, mutu, hingga kesinambungan pasokan.
Selain itu, kemasan dan pemasaran perlu disesuaikan dengan kebutuhan konsumen AS. Pemerintah turut mendampingi komunikasi antara eksportir dan calon pembeli.
Akses pasar juga diperkuat oleh pelaku usaha diaspora Indonesia. Exotique Foods, Trully Amazing One, dan Bos Tempeh telah mengembangkan produk Indonesia di AS.
Keberadaan mereka membantu produsen memahami distribusi dan kebutuhan pasar setempat. Peran ini dapat mempercepat masuknya produk ke peritel dan konsumen.
Sementara itu, pengembangan tempe di dalam negeri berkaitan dengan penguatan UMKM. Ketua Umum Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani), Nannie Hadi Tjahjanto menilai, banyak usaha tempe dijalankan perempuan.
“Banyak pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM yang mengolah tempe. Sebagian besar pelaku UMKM tersebut juga merupakan perempuan,” jelas Nannie kepada PravadaNews di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, Senin (27/7) lalu.
Adapun KOWANI juga memperkenalkan sorgum sebagai alternatif bahan baku tempe. Diversifikasi tersebut diarahkan untuk memperluas produk dan sumber pangan.
Pengembangan bahan baku dan penguatan UMKM menjadi penopang perluasan pasar tempe. Kesiapan produksi tetap menentukan keberlanjutan ekspornya ke AS.















