Pravadanews – Pembangunan Stadion Barombong yang sejak awal digadang-gadang menjadi stadion berstandar internasional kini justru menuai sorotan publik.
Stadion yang berada di kawasan Barombong, Sulawesi Selatan itu dinilai belum mampu dimanfaatkan secara maksimal lantaran proses pembangunan yang berjalan lambat dan terkesan mangkrak dalam waktu cukup lama.
Padahal, stadion tersebut sempat diharapkan menjadi salah satu ikon baru sepak bola di Indonesia Timur. Dengan desain megah dan kapasitas besar, Stadion Barombong diproyeksikan mampu menjadi kandang representatif bagi klub sepak bola sekaligus mendukung perkembangan olahraga nasional. Namun kenyataan di lapangan justru berbeda. Sejumlah bagian stadion hingga kini belum rampung sepenuhnya dan fasilitas pendukung dinilai belum memenuhi standar internasional.
Pengamat sepak bola nasional, Kesit Budi Handoyo, memberikan pandangannya mengenai pentingnya keberadaan stadion yang layak bagi sebuah klub sepak bola. Menurutnya, sarana dan prasarana merupakan faktor penting untuk menciptakan kenyamanan saat tim bermain di kandang sendiri.
“Stadion Barombong kalau kita lihat sekilas, stadion ini cukup megah sebenarnya. Tapi apakah kemudian kemegahan yang saat ini terlihat di Stadion Barombong itu sudah sesuai dengan standar internasional? Belum tentu begitu ya. Apalagi stadion itu dalam kondisi mangkrak,” jelas Kesit dikutip Jumat (8/5/2026).
Kesit menilai pembangunan stadion tidak hanya sebatas menghadirkan bangunan megah semata, tetapi juga harus memperhatikan kualitas fasilitas, keamanan, aksesibilitas, hingga kenyamanan pemain dan penonton. Ia menegaskan stadion modern saat ini dituntut memenuhi berbagai aspek penunjang agar benar-benar bisa digunakan dalam kompetisi level nasional maupun internasional.
Menurutnya, stadion yang terbengkalai justru dapat menjadi simbol kurang optimalnya pengelolaan infrastruktur olahraga di Indonesia. Ia berharap pembangunan Stadion Barombong dapat kembali dilanjutkan secara serius agar tidak menjadi proyek yang sia-sia.
Hal senada juga disampaikan pengamat sepak bola sekaligus pelatih ternama Indonesia, Justinus Lhaksana. Pria yang akrab disapa Coach Justin itu menilai keberadaan stadion merupakan kebutuhan mendasar bagi sebuah tim sepak bola profesional.
“Jika tidak ada stadion mau main dimana?” tanya Coach Justin.
Coach Justin menegaskan, stadion bukan hanya tempat pertandingan, tetapi juga menjadi identitas klub dan pusat aktivitas pembinaan sepak bola. Karena itu, pembangunan stadion seharusnya menjadi prioritas yang dirancang matang agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Coach Justin juga berharap kasus mangkraknya Stadion Barombong tidak kembali terulang di masa mendatang. Ia meminta pemerintah untuk lebih serius dalam melakukan pengawasan terhadap proyek pembangunan infrastruktur olahraga agar tidak bernasib sama seperti sejumlah proyek besar lain yang terbengkalai.
“Hal seperti ini kan beberapa kali terjadi, semoga tidak terjadi lagi. Pemerintah harus mengatur ini dan pembangunan stadion bisa dimanfaatkan dalam jangka panjang,” harap Coach Justin.
Kondisi Stadion Barombong saat ini pun memunculkan kekecewaan dari berbagai kalangan pecinta sepak bola. Banyak pihak menilai stadion tersebut sebenarnya memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu venue terbaik di Indonesia timur apabila pembangunan diselesaikan dengan baik.
Selain dapat digunakan untuk pertandingan sepak bola, stadion itu juga berpotensi mendukung kegiatan olahraga lainnya hingga event berskala nasional. Namun tanpa penyelesaian yang jelas, stadion megah tersebut justru terancam menjadi bangunan yang tidak terawat dan kehilangan fungsi utamanya.
Publik kini berharap ada langkah konkret dari pemerintah maupun pihak terkait untuk melanjutkan pembangunan Stadion Barombong agar dapat benar-benar dimanfaatkan oleh masyarakat dan dunia sepak bola Indonesia. Sebab, stadion bukan sekadar bangunan fisik, melainkan simbol kemajuan olahraga dan kebanggaan daerah.















