PravadaNews – Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto resmi mendirikan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang khusus mengurusi ekspor namanya PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).
BUMN khusus ekspor itu lahir dari Peraturan Pemerintah (PP) tentang Tata Kelola Ekspor Komoditas Sumber Daya Alam. Dalam PP tersebut, penjualan sumber daya alam ke luar negeri dikelola melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
PT DSI akan mengurusi ekspor tiga komoditas di antaranya; minyak kelapa sawit atau CPO, batu bara, paduan besi (ferro alloy).
“Penjualan semua hasil sumber daya alam kita, mulai dari minyak kelapa sawit, batu bara, dan paduan besi, kita wajibkan harus dilakukan penjualannya melalui BUMN yang ditunjuk oleh pemerintah RI sebagai pengekspor tunggal,” jelas Presiden dalam pidato di Rapat Paripurna DPR RI di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Rabu (20/5/2026).
Baca Juga: Jangan Hanya Andalkan Sektor SDA
Ekonom Indef, Prof Didik J Rachbini mengatakan, upaya pemerintah untuk memaksimalkan penerimaan negara dari ekspor CPO, batu bara, dan paduan besi harus didukung.
Namun, lanjut Prof Didik, selama satu dekade terakhir ini pada saat pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) terjadi deindustrialisasi yang parah, ditambah masalah kelas menang yang turun drastis.
“Dengan kondisi seperti ini, maka upaya penerimaan negara tidak akan maksimal,” ujar Prof Didik kepada PravadaNews, Selasa (26/5/2026).
Oleh karena itu, Indef mendorong reindustrialisasi agar penerimaan negara tumbuh signifikan. “Ekonomi tumbuh di atas tingkat moderat 5%,” jelas Prof Didik.
Baca Juga: Ekspor CPO Siapa yang Menikmati?
Reindustralisasi itu, kata Prof Didik, dengan cara para pengusaha dapat menyiasati peraturan baru ekspor sumber daya alam dengan cara meningkatkan nilai tambah.
“Diproses di dalam negeri semaksimal mungkin atau hilirisasi,” kata Prof Didik.
Rektor Universitas Paramadina ini menambahkan, pengusaha dapat melakukan hilirasisasi terhadap barang akan diekspor, tidak lagi mengekspor bahan mentah.
“Kontroversi dan tantangan aturan baru ini bisa menjadi pemicu dunia usaha di bidang sumber daya alam ini aktif melakukan hilirisasi bukan ekspor bahan mentah,” pungkas Prof Didik.














