Stok Minyak Sawit Melimpah saat Ekspor Loyo. (Foto: Dok. PravadaNews)

Beranda / Ekonomi / Stok Minyak Sawit Melimpah saat Ekspor Loyo

Stok Minyak Sawit Melimpah saat Ekspor Loyo

PravadaNews – Stok minyak sawit nasional alami peningkatan pada Maret 2026. Kenaikan itu terjadi ketika produksi, konsumsi domestik, dan ekspor produk sawit tercatat terjadi penurunan secara bulanan.

Laporan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat posisi stok akhir bulan ketiga tahun ini naik menjadi 2,568 juta ton dari 2,026 juta ton pada akhir Februari.

Kenaikan stok tersebut berlangsung saat konsumsi dalam negeri turun 8,25 persen dan ekspor produk sawit turun 34,25 persen secara bulanan.

“Produksi CPO bulan Maret 2026 mencapai 4.403 ribu ton, turun 12,22 persen dari bulan sebelumnya 5,015 ribu ton,” tulis GAPKI dalam laporannya, Kamis (28/5/2026).

Baca Juga: 10 Raksasa CPO di Radar Negara

Penurunan produksi juga terjadi pada Palm Kernel Oil (PKO), dari 485 ribu ton menjadi 418 ribu ton. Dengan demikian, total produksi Crude Palm Oil (CPO) dan PKO pada periode tersebut turun 12,35 persen menjadi 4,821 juta ton.

Dari sisi ekspor, tekanan pasar terlihat lebih dalam. Total ekspor produk sawit turun dari 3,297 juta ton pada Februari menjadi 2,168 juta ton pada bulan berikutnya.

Nilai ekspor turut melemah dari 3,69 miliar dolar Amerika Serika (AS) menjadi 2,61 miliar dolar AS. Koreksi terdalam terjadi pada ekspor CPO, anjlok 75,61 persen menjadi 96 ribu ton. Pelemahan bulanan tersebut terutama terlihat dari penurunan permintaan sejumlah negara tujuan utama.

Pengamat Pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Khudori menilai, ekspor sawit pada periode itu tidak bisa dilepaskan dari koreksi pembelian di pasar besar.

“Kalau mengacu data GAPKI, ekspor Maret lalu turun drastis karena permintaan dari negara-negara importir terbesar minyak sawit menurun,” kata Khudori kepada PravadaNews, Kamis (28/5/2026).

Khudori menjelaskan, data tujuan ekspor menunjukkan penurunan terbesar terjadi ke China dan India. Ekspor ke China turun 314 ribu ton, sedangkan ekspor ke India berkurang 291 ribu ton dibanding Februari 2026.

Koreksi juga terjadi ekspor ke Pakistan, Bangladesh, Afrika, Timur Tengah, Malaysia, Amerika Serikat, dan Uni Eropa. Sebaliknya, ekspor ke Rusia hanya naik 24 ribu ton. Sehingga, belum mampu menutup penurunan dari pasar utama.

“Secara keseluruhan, penurunan ini menandakan ada pelemahan permintaan dari negara-negara importir utama. Situasi itu juga dipengaruhi kenaikan biaya logistik, biaya asuransi, dan harga minyak sawit akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah,” ujar Khudori.

Kondisi pasar tersebut membuat minyak nabati pesaing menjadi lebih kompetitif di pasar internasional. Dalam situasi itu, pemulihan ekspor menjadi salah satu faktor penting untuk menahan peningkatan stok di dalam negeri.

Dengan stok yang meningkat, tekanan terhadap harga Tandan Buah Segar (TBS) berpotensi muncul apabila ekspor belum kembali pulih. Khudori mengukur kenaikan stok tersebut belum terlalu jauh, tetapi tetap perlu diantisipasi agar pelemahan pasar luar negeri tidak merembet ke harga di tingkat petani.

Meski begitu, pelemahan pada Maret 2026 belum menghapus pertumbuhan kinerja sawit secara kumulatif. Sepanjang Januari-Maret 2026, nilai ekspor produk sawit masih naik 10,40 persen menjadi 9,66 miliar dolar AS, ditopang volume ekspor tahunan dan harga rata-rata CPO yang lebih tinggi. (Nur Aida Nasution)

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *