PravadaNews – Polda Metro Jaya menyatakan telah mengamankan dua pria yang diduga membawa bom molotov dalam aksi unjuk rasa mahasiswa di kawasan jalan Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat (12/6/2025).
Adapun dua pria itu diamankan di daerah Bendungan Hilir (Benhil) jakarta Pusat, saat hendak menuju titik aksi demonstrasi di kawasan Thamrin.
Dalam keteranganya, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto menyebut penangkapan
itu dilakukan pada saat petugas melakukan pemeriksaan kepada kelompok dua pria tersebut.
Sosok yang akrab disapa Budi itu mengatakan pihaknya kemudian melakukan identifikasi terhadap kelompok itu dan menemukan dua pria membawa melotoh.
“Nah, kami juga menyampaikan kepada teman-teman sekalian bahwa Satgas Gakkum, Penegakan Hukum Polda Metro Jaya sudah mengidentifikasi beberapa kelompok orang yang akan bergabung dengan kelompok aksi mahasiswa dan ini membawa Molotov,” ungkap Budi.
“Dan sudah diamankan dua orang saat ini oleh Ditreskrimum Polda Metro Jaya membawa molotov akan bergabung dengan mahasiswa,” sambung Budi.
Budi menegaskan pihaknya saat ini masih melakukan pemeriksaan terhadap dua pria tersebut untuk mendalami motif membawa bom molotov tersebut.
Selain itu, aparat kepolisian juga akan mendalami keterangan dari dua pria itu apakah ada dugaan keterlibatan kelompok-kelompok yang ingin melakukan provokasi di agenda demonstrasi mahasiswa hari ini.
“Ini masih kami akan dalami afiliasi dengan siapa,” tegas Budi.
Sosok yang akrab disapa Budi itu mengaku juga telah menyiapkan langkah antisipasi guna mencegah aksi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat selama unjuk rasa berlangsung.
Budi mengatakan Satuan Tugas Penegakan Hukum (Satgaskum) memetakan kelompok-kelompok yang berpotensi memanfaatkan aksi tersebut untuk kepentingan lain.
Budi menambahkan, kepolisian tidak akan ragu untuk mengambil tindakan terhadap kelompok yang dinilai mengancam ketertiban umum.
“Makanya kami menyampaikan bahwa Polda Metro Jaya melalui Satgas Gakkum akan melakukan tindakan tegas bagi kelompok- kelompok yang mencoba merusak penyampaian aspirasi adik-adik mahasiswa tadi di muka umum. Jadi itu di luar dari kelompok dari mahasiswa ya,” tutup Budi.
Massa aksi mengungkapkan kekecewaannya atas tindakan kepolisian yang menutup total akses jalan raya Thamrin menuju bunderan Hotel Indonesia (HI).
Salah satu perwakilan BEM UI mengatakan, padahal pihaknya sudah koperatif memberikan informasi kepada pihak kepolisian untuk menggelar aksi di bunderan HI.
Atas dasar itu, BEM UI menuding aparat kepolisian sengaja untuk menghalangi massa aksi yang hendak menggelar demonstrasi dan diduga melanggar prinsip kebebasan berekspresi.
Sementara, imbas penghadangan itu, massa mahasiswa tertahan di jalan Thamrin dan tidak bisa untuk melanjutkan perjalananya menuju bunderan HI.
Selain di jalan Thamrin, kepolisian diduga juga turut melakukan aksi penghadangan di sejumlah titik yang mengakibatkan massa mahasiswa terpecah dan tidak dapat mencapai lokasi aksi.
“Padahal kami telah merencanakan aksi ini dan juga sudah mengirimkan surat pemberitahuan kepada kepolisian bahwa kami akan mengadakan aksi di Bundaran HI. Namun pada pukul 11.55 WIB, tepat saat berada di Dukuh Atas, kami ditahan oleh polisi,” ujar perwakilan BEM UI.
Di sisi lain, Mahasiswa menyoroti langkah kepolisian yang diduga melakukan pembatasan akses para massa aksi saat menunaikan ibadah solat Jumat.
Aparat diduga tidak memberi ruang bagi massa untuk bergerak menuju lokasi ibadah maupun titik aksi.
“Saat itu kami hendak melaksanakan ibadah salat Jumat yang haknya telah dijamin dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan nilai-nilai Pancasila. Akan tetapi, aparat kepolisian tidak mengindahkan hal tersebut. Ketika ditanya alasannya, mereka tidak memberikan jawaban dan justru mengarahkan kami untuk salat di tempat lain,” katanya.
Berdasarkan keterangan dari BEM UI aksi penghadangan kepolisan itu meliputi sejumlah lokasi yakni
Dukuh Atas, Semanggi, Gelora Bung Karno (GBK), Velodrome, hingga sekitar Kompleks Parlemen Senayan.
Salah satu koordinator lapangan mengatakan dirinya bersama lima koordinator lain terpisah dari rombongan utama. Sejumlah peserta aksi, kata dia, tertahan di berbagai titik karena akses pergerakan ditutup aparat.
“Saya bersama lima rekan koordinator lapangan yang berada di depan terpisah dari rombongan. Ada teman-teman yang tertahan di Velodrome, ada yang mengarah ke Kemendiktisaintek, dan ada dua koordinator lapangan dari fakultas di UI yang terjebak di depan DPR. Di sana kami tidak bisa maju maupun mundur,” pungkasnya.















