Ketua Umum Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI), Hariyadi Sukamdani (pertama dari kanan) saat ditemui di Kementerian Perdagangan, Jakarta. (Foto: Dok. Nur Aida/PravadaNews)

Beranda / Ekonomi / Turis Asing Jadi Target Penjualan Mal

Turis Asing Jadi Target Penjualan Mal

PravadaNews – Kunjungan turis asing terus meningkat, tapi hanya sekitar sepersepuluh pengeluaran mereka digunakan untuk belanja dan oleh-oleh. Sebagian besar uang wisatawan masih terserap untuk penginapan serta makanan.

Kondisi tersebut membuat pusat perbelanjaan perlu mendorong turis membeli lebih banyak produk selama berada di Indonesia. Kenaikan jumlah kunjungan saja belum cukup memperbesar transaksi ritel.

Hal ini diungkap Ketua Umum Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI), Hariyadi Sukamdani yang mengatakan turis asing dapat menjadi pasar tambahan ketika penjualan mal melandai.

“Salah satu hal yang harus kita fokuskan sebetulnya adalah menarik wisatawan mancanegara untuk berbelanja di Indonesia,” ujar Hariyadi saat ditemui di Kementerian Perdagangan, Jakarta, Kamis (30/7/2026).

Karena itu, promosi belanja perlu dilakukan sebelum wisatawan tiba. Produk Indonesia juga perlu dikenalkan sebagai bagian dari perjalanan, bukan sekadar pilihan setelah mengunjungi destinasi wisata.

Hariyadi menilai, Australia layak menjadi pasar utama karena rata-rata pengeluaran wisatawannya relatif tinggi.

“Jadi, kita bisa segera mengarahkan promosi untuk mendatangkan wisatawan dari Australia,” lanjut Ketua Asosiasi ini.

Diketahui, akses dari Australia bertambah setelah penerbangan langsung Canberra–Bali beroperasi pada 22 Juni lalu. Rute tersebut tersedia tiga kali pulang-pergi setiap pekan dengan kapasitas lebih dari 40 ribu kursi per tahun.

Adapun Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat 1,38 juta kunjungan wisatawan mancanegara pada Mei 2026. Jumlah itu meningkat 5,83% dibandingkan Mei 2025.

“Kunjungan wisman melalui pintu masuk utama dan perbatasan pada Mei 2026 sebanyak 1,38 juta kunjungan,” jelas Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono dalam keterangannya, dikutip Sabtu (1/8).

Terlihat Malaysia menyumbang 21,58% kunjungan, diikuti Australia 11,22% dan Singapura 9,89%. Namun, besarnya jumlah wisatawan tidak selalu sejalan dengan nilai pengeluarannya.

Pada 2025, wisatawan Australia membelanjakan rata-rata 1.437 dolar Amerika Serikat per kunjungan. Nilainya lebih tinggi dibandingkan Singapura sebesar 624 dolar AS dan Malaysia 594 dolar AS.

Meski demikian, belanja dan oleh-oleh hanya mengambil porsi 10,98% dari pengeluaran wisatawan pada triwulan III 2025. Sebaliknya, akomodasi menyerap porsi terbesar hingga 37,31%.

Peluang transaksi juga ditopang pembayaran Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) lintas negara dan fasilitas pengembalian Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Namun, data transaksi turis di mal dan jumlah toko peserta masih perlu diperluas agar dampaknya terhadap penjualan dapat diukur.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *