PravadaNews – Harga gas industri masuk dalam agenda mitigasi pemutusan hubungan kerja (PHK) saat tekanan biaya energi menekan keberlangsungan industri berorientasi ekspor.
Penasihat Khusus Presiden RI bidang ketenagakerjaan dan kesejahteraan buruh sekaligus Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal, menyebut mitigasi PHK sudah mulai berjalan. Said menyampaikan, Satgas Mitigasi PHK mulai bekerja dan penasihat presiden turun ke lapangan.
“Harga gas industri diarahkan menuju batas bawah sekitar 7 dolar AS, dari sebelumnya sekitar 14 sampai 16 dolar AS,” kata Said, di temui di gedung Usmar Ismail Hall, Jakarta, Senin (29/6/2026).
Lebih lanjut, Said mengaitkan harga gas industri dengan kegiatan produksi perusahaan. “Ini akan mendorong industri kembali bekerja normal, sehingga terhindar dari PHK di industri berorientasi ekspor,” kata Said.
Selanjutnya, Said menyebut intervensi kebijakan tersebut dilakukan melalui Penasihat Presiden dengan dukungan Wakil Ketua DPR RI. Pembahasan harga gas industri masuk dalam langkah mitigasi terhadap maraknya PHK.
Adapun pernyataan Said menempatkan harga gas sebagai salah satu faktor dalam pembahasan keberlangsungan industri. Hal tersebut berkaitan dengan biaya energi yang dihadapi industri berorientasi ekspor.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Asosiasi Pemasok Energi, Mineral, dan Batubara Indonesia (ASPEBINDO), Jay Singgih, menyebut energi berkaitan dengan stabilitas ekonomi. Jay menilai ketahanan energi tidak hanya menyangkut ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) dan liquefied petroleum gas (LPG).
“Energi bukan hanya soal ketersediaan BBM dan LPG, namun juga berkaitan langsung dengan stabilitas perekonomian, daya saing industri, logistik, kebutuhan dasar masyarakat, serta penciptaan lapangan kerja dengan multiplier effect yang sangat besar,” kata Jay.
Lebih lanjut, Jay menyampaikan kebutuhan crude oil, BBM, dan LPG terus meningkat. Jay juga menyebut produksi domestik dan kapasitas pengolahan dalam negeri perlu mampu memenuhi kebutuhan nasional.
Di sisi lain, Jay menyebut impor tetap menjadi salah satu instrumen dalam menjaga pasokan energi. Jay mengingatkan adanya fluktuasi harga global, tekanan nilai tukar, dinamika geopolitik, dan kelancaran rantai pasok.















