PravadaNews – Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengumumkan aset Iran senilai 6 miliar dolar AS yang dibekukan di Qatar akan dicairkan dan ditransfer kembali ke Iran berdasarkan kesepakatan terkini.
Pezeshkian menyebut perkembangan ini sebagai bagian dari pencapaian lebih luas yang lahir dari ketangguhan bangsa.
Melansir dari Kantor Berita IRNA, Selasa (30/6/2026), dalam pertemuan dengan Ayatollah Agung Mousa Shobeiri Zanjani di kota suci Qom, Pezeshkian menyatakan bahwa dana tersebut merupakan separuh dari total aset Iran senilai 12 miliar dolar AS yang saat ini berada di Qatar.
Pezeshkian menambahkan bahwa upaya untuk mengembalikan sisa dana tersebut masih terus dilakukan.
Presiden memuji keteguhan rakyat Iran dalam menghadapi tekanan eksternal dan tantangan keamanan belakangan ini.
Baca Juga: Pemulihan Pasca Gempa Venezuela
Pezeshkian mengatakan, meskipun terjadi gugurnya para pejabat senior, komandan militer, tokoh terkemuka, dan mahasiswa dalam perang yang dipaksakan oleh AS dan rezim Israel baru-baru ini, masyarakat Iran, angkatan bersenjata, dan pemerintah bersatu padu untuk menggagalkan tujuan musuh-musuh negara.
Pezeshkian menyebutkan bahwa Amerika Serikat dan rezim Israel berupaya mengguncang stabilitas Iran melalui tekanan ekonomi dan serangan terhadap infrastruktur vital—termasuk fasilitas produksi gas, pabrik baja, dan sektor petrokimia—serta berupaya membatasi ekspor minyak Iran.
Pezeshkian menyatakan bahwa upaya-upaya tersebut gagal berkat dukungan masyarakat dan persatuan nasional.
Menilai nota kesepahaman (MoU) antara Iran dan AS yang dimediasi oleh Pakistan baru-baru ini sebagai kemenangan besar bagi rakyat Iran, Presiden mengatakan bahwa kesepakatan tersebut mencakup pencabutan sanksi terhadap sektor minyak dan petrokimia Iran.
Pezeshkian menambahkan bahwa selain upaya rekonstruksi, pemerintah telah memperluas langkah-langkah dukungan sosial, termasuk peningkatan nilai voucer bantuan pangan elektronik.
Menegaskan kembali posisi Iran terkait program nuklirnya, Pezeshkian menyatakan bahwa negara tersebut tidak mengincar senjata nuklir dan program nuklirnya akan terus berjalan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan nasional sesuai dengan kebijakan yang telah ditetapkan.
Pezeshkian juga mengatakan bahwa Amerika Serikat pada akhirnya mendesak rezim Israel untuk menerima MoU tersebut, meskipun ada penentangan dari rezim itu sendiri dan sejumlah kelompok monarkis.
Sementara itu, Ayatollah Agung Shobeiri Zanjani menyampaikan terima kasih kepada Presiden Pezeshkian dan para pejabat Iran lainnya atas upaya mereka, serta menekankan posisi terhormat Republik Islam Iran di dunia Islam.














