PravadaNews – Kebijakan Harga Eceran Tertinggi (HET) Minyakita nampaknya hanya sekadar aturan formalitas. Sebab, masyarakat masih mendapati harga Minyakita di pasar rakyat di atas HET.
Misalnya saja di toko eceran di kawasan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Kota Administrasi Jakarta Selatan, menjual Minyakita ukuran 1 liter diharga Rp21.000, sementara kemasan ukuran 2 liter dijual Rp42.000.
Hal ini menandakan bahwa kebijakan HET tidak berjalan optimal di tingkat pengecer. Namun, yang menjadi pertanyaan besar yakni harga pembelian dari tingkat pengecer ke distributor. Jika harga di tingkat pengecer sudah mencapai Rp21.000 per liter, tentu harga di tingkat distributor sudah melampaui HET sebesar Rp15.700 per liter.
Baca Juga: HET Minyakita Tidak Naik tapi Harga di Pengecer Melambung
Retno seorang Cleaning service Casablanca East Residence yang beralih dari Minyakita ke minyak curah.
Retno mengatakan harga minyak curah di tingkat pengecer lebih bersahat di kantongnya. Retno mengaku membeli minyak curah harga Rp12.000 per liter. Sementara, harga Minyakita seharga Rp18.000 per liter.
“Sama aja namanya minyak, enggak ada beda sama Minyakita, tapi kalau minyak kita 18 ribu sedangkan curah 12 ribu,” ujar Retno saat ditemui di Casablanca East Residence, dikutip Senin (13/7/2026).
Sebelumnya, Menteri Perdagangan (Mendag), Budi Santoso (Busan) mengatakan bahwa HET Minyakita sampai saat ini tidak berubah tetap Rp15.700 per liter.
“Sampai saat ini tidak ada kenaikan harga eceran tertinggi untuk minyak goreng. Jadi HET minyak goreng masih Rp15.700,” kata Busan kepada wartawan di IPB, Dramaga, Bogor, Jumat (12/6/2026).
Sementara itu, Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Azhar Syahida menilai, harga Minyakita di atas HET disebabkan sejumlah faktor di antaranya; perubahan biaya, pasokan, dan permintaan yang tinggi.
“Sebetulnya kalau kita lihat di berbagai produk, termasuk di produk beras, HET selalu tidak berjalan optimal karena dinamika pasar yang terus bergerak,” kata Azhar kepada PravadaNews, Senin (13/7/2026).
Azhar mengusulkan agar Minyakita kita diganti dengan subsidi dengan pemberian uang tunia kepada masyarakat.
“Misalnya, diganti dengan cash, sehingga konsumen kelas menengah ke bawah bisa memilih dan membeli produk minyak lain dengan harga yang tidak jauh berbeda tetapi kualitas jauh lebih baik,” jelas Azhar.















