PravadaNews – Harga telur ayam ras segar mengalami kenaikan pada perdagangan terbaru.
Berdasarkan pantauan harga pangan dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola oleh Bank Indonesia, dikutip pada Rabu (22/7/2026) pukul 14:47, harga komoditas tersebut tercatat naik 2,24 persen menjadi Rp29.650 per kilogram, dibandingkan harga sebelumnya yang berada di level Rp29.600 per kilogram.
Kenaikan harga telur ayam ras segar menjadi salah satu perkembangan yang terus dipantau mengingat komoditas ini merupakan bahan pangan pokok yang banyak dikonsumsi masyarakat.
Telur ayam ras juga menjadi salah satu sumber protein hewani dengan harga yang relatif terjangkau, sehingga pergerakan harganya berpengaruh terhadap pengeluaran rumah tangga.
Meski kenaikan yang terjadi relatif terbatas, perubahan harga tetap menjadi perhatian karena dapat memengaruhi daya beli masyarakat, khususnya di tengah kebutuhan pangan yang terus meningkat.
Di sisi lain, harga telur juga berpengaruh terhadap pelaku usaha kuliner, industri makanan, dan usaha mikro yang menjadikan telur sebagai salah satu bahan baku utama.
Pergerakan harga telur ayam ras dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari biaya produksi di tingkat peternak, harga pakan ternak, biaya distribusi, hingga keseimbangan antara pasokan dan permintaan di pasar. Apabila salah satu faktor tersebut mengalami perubahan, harga di tingkat konsumen dapat ikut menyesuaikan.
Pemerintah bersama instansi terkait terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan harga berbagai komoditas pangan strategis, termasuk telur ayam ras segar.
Pemantauan tersebut dilakukan untuk memastikan pasokan tetap tersedia dan harga berada pada tingkat yang wajar sehingga tidak membebani masyarakat maupun merugikan peternak.
Selain menjaga stabilitas harga, pemerintah juga terus mendorong kelancaran distribusi pangan dari sentra produksi ke berbagai daerah.
Upaya tersebut diharapkan dapat menjaga keseimbangan pasokan di pasar serta meminimalkan gejolak harga yang berpotensi terjadi akibat gangguan distribusi maupun peningkatan permintaan.
Dengan pasokan yang terjaga dan distribusi yang lancar, harga telur ayam ras segar diharapkan tetap stabil sehingga kebutuhan protein masyarakat dapat terpenuhi, sekaligus memberikan kepastian usaha bagi para peternak dan pelaku distribusi di berbagai daerah.
Sebelumnya, salah satu peternak ayam petelur di Kelurahan Pengasinan, Kecamatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Kiki (29 tahun), mengatakan harga telur di tingkat peternak kini mencapai Rp26.000 per kilogram. Harga tersebut telah bertahan sekitar satu pekan.
“Harga sekarang Rp26.000 per kilogram, sudah sekitar seminggu,” kata Kiki saat diwawancarai, Selasa (21/7).
Menurut Kiki, kenaikan harga terjadi bersamaan dengan meningkatnya permintaan telur sejak Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai bergulir. Program pemerintah tersebut memang menjadikan telur sebagai salah satu sumber protein hewani dalam menu makanan bergizi bagi para penerima manfaat.
Kiki mengaku tingginya permintaan membuat stok telur di kandangnya kerap tidak mencukupi. Untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, dirinya harus meminta bantuan pasokan dari peternak lain.
“Wah laku, Mas. Telur kekurangan terus. Kalau kurang ya saling bantu sama teman peternak. Kalau mereka masih punya stok, kita minta dibawakan,” ujar Kiki.
Kiki saat ini memelihara sekitar 3.200 ekor ayam petelur. Dari jumlah tersebut, produksi telur dari kandangnya mencapai sekitar 75 kilogram per hari.
Namun, total telur yang dikirim kepada pelanggan bisa mencapai sekitar 120 kilogram per hari setelah ditambah pasokan dari peternak lain. Bahkan pada pekan lalu, ia sempat mengirim hampir 200 kilogram telur hanya untuk memenuhi permintaan pelanggan tetap.
Di sisi lain, kenaikan harga telur tidak diikuti kenaikan harga pakan. Kondisi itu membuat keuntungan peternak meningkat dibandingkan ketika harga telur sempat terpuruk selama lebih dari dua bulan.
“Kalau pakan sama saja, enggak naik,” katanya.
Kiki mengungkapkan, saat harga telur berada di level Rp26.000 per kilogram, keuntungan bersih yang diperoleh setelah dikurangi biaya pakan mencapai sekitar Rp1,2 juta per hari.
Sebelumnya, ketika harga telur masih rendah, keuntungan bersih yang didapat hanya berkisar Rp500.000 hingga Rp600.000 per hari. Kondisi tersebut berlangsung selama lebih dari dua bulan sebelum harga mulai pulih.
Peningkatan permintaan telur sejalan dengan proyeksi pemerintah yang memperluas cakupan Program Makan Bergizi Gratis. Pemerintah sebelumnya memperkirakan kebutuhan komoditas pangan, termasuk telur, akan meningkat seiring bertambahnya jumlah penerima manfaat program tersebut.















