Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Ateng Hartono. (Foto: Dok. Tangkapan layar YouTube BPS)

Beranda / Ekonomi / Tiga Penyumbang Inflasi Juli 2026

Tiga Penyumbang Inflasi Juli 2026

PravadaNews – Deflasi pada Juli 2026 belum berarti harga lebih rendah dibandingkan setahun sebelumnya. Inflasi tahunan tetap mencapai 2,88% karena tiga kelompok pengeluaran masih memberikan tekanan terbesar.

Penyumbang terbesar berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Dua kelompok berikutnya ialah transportasi serta perawatan pribadi dan jasa lainnya, dengan total andil ketiganya 2,10 poin persentase.

“Terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,60 pada Juli 2025 menjadi 111,73 pada Juli 2026,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono dalam konferensi pers yang dipantau melalui kanal YouTube BPS, Senin (3/8/2026).

Namun, harga secara bulanan bergerak turun selama Juli. IHK menurun dari 111,89 pada Juni menjadi 111,73 sehingga terjadi deflasi sebesar 0,14%.

Deflasi terutama berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang turun 0,89%. Penurunan harga bawang, cabai, telur ayam ras, tomat, dan jeruk memberikan andil deflasi 0,26 poin persentase.

Meski turun secara bulanan, kelompok tersebut masih mengalami inflasi tahunan sebesar 2,97%. Kenaikan sejumlah bahan pangan dan rokok membuat kelompok ini memberikan andil terbesar, yakni 0,87 poin persentase.

Transportasi menjadi penyumbang kedua dengan andil sebesar 0,62 poin persentase. Kelompok itu mengalami inflasi tahunan 5,12% yang terutama dipengaruhi harga bensin dan tarif angkutan udara.

Adapun kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menyumbang 0,61 poin persentase. Inflasi kelompok tersebut mencapai 9,04% dengan emas perhiasan sebagai pendorong utamanya.

Berdasarkan komponennya, inflasi inti tercatat 2,76% dengan andil 1,76 poin persentase. Sementara itu, harga yang diatur pemerintah naik 3,58%, sedangkan inflasi pangan bergejolak melambat menjadi 2,52%.

Dalam kesempatan lain, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (Pjs) Destry Damayanti menyebut, inflasi Juli masih berada dalam sasaran pemerintah.

“Inflasi kelompok volatile food tercatat sebesar 2,52% secara tahunan, menurun dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 5,58%, terutama didorong oleh deflasi komoditas bawang merah, cabai rawit, dan cabai merah,” ujar Destry dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Gedung Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Namun, kenaikan harga avtur akibat tingginya harga energi global masih memberikan tekanan pada harga yang diatur pemerintah.

Pengendalian inflasi, menurut Destry, akan diperkuat melalui bantuan pangan, diskon transportasi, serta koordinasi pemerintah dan BI di pusat maupun daerah. Langkah ini diarahkan menjaga inflasi 2026 dan 2027 dalam sasaran 2,5% plus minus satu persen.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *